Belajar dari Mereka yang Membakar Hutan

Warga suku rejang saat beristirahat di ladang mereka
Sumber :
  • VIVA.co.id/Dedek Hendry (dok)

Lahan hutan yang sudah dibersihkan, menggeges atau sekat api/VIVA.co.id/Akar Foundation dok

Batas yang dibuat berjarak 1–2 meter. Sewaktu neme’un, pengelola lahan mengawasi api. Bila api menjalar keluar lahan dan membakar semak belukar dan pohon-pohon di luar lahan yang digarap, pengelola lahan dikenakan sanksi juluak tujua. Yakni, mengumpulkan seluruh sisa pembakaran menjadi tujuh tumpukan.

Sepintas tata cara ini memang tradisional. Namun di balik ini, para 'pembakar' hutan ini mengajarkan kearifan dan perilaku santun terhadap hutan. Hutan tak cuma menjadi objek atau sebatas ladang belaka, namun juga menjadi ruang hidup dan ilmu bagi mereka yang berada di pedalaman.

Kopi habis, asap menipis di wajah Riduan. Obrolan itu pun ditutup dengan gerimis. (ren)