Maidiana, Bidan Tangguh di Pedalaman Hutan Aceh

Maidiana, bidan desa tangguh di pedalaman hutan Aceh
Sumber :
  • VIVA.co.id/Zulfikar Husein

VIVA.co.id – Namanya Maidiana. Perempuan berusia 29 tahun ini berprofesi sebagai bidan desa di Desa Seumirah, Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara, Aceh. Desa ini merupakan salah satu desa yang terletak di pedalaman Aceh. Akses ke desa tersebut butuh waktu lebih dari dua jam menggunakan sepeda motor atau mobil dari ibu kota kabupaten.

Dara ini dulunya tak pernah bercita-cita menjadi bidan desa. Dulunya ia berharap menjadi bidan layaknya bidan biasa yang bertugas di rumah sakit atau puskesmas-puskesmas. Namun, nasib membawa ia jadi bidan desa.

Di desa tempat Maidiana bertugas, memiliki jumlah penduduk sebanyak 4.034 warga dengan wilayah yang cukup luas. Di desa itu, jalan-jalan terbuat dari bebatuan dan bercampur tanah. Jangan berfikir akan menjumpai aspal di desa pedalaman Aceh tersebut.

Setiap hari, dara ini harus melayani banyak warga dengan berbagai macam keluhan sakit. Namun, perhatian utama Maidiana adalah pada kesehatan ibu dan setiap bayi yang ada di desa tersebut. Jika ada yang ibu yang hamil dan akan melahirkan di desanya, Maidiana dengan sigap membantu proses persalinan tersebut.

"Rata-rata penduduk disini lebih memilih melahirkan di rumah, dibandingkan di puskesmas apalagi rumah sakit, meski anaknya kembar, jadi saya yang membantunya (proses persalinan)," ujar Maidiana kepada VIVA.co.id, Sabtu 6 Februari 2016.

Tak hanya membantu proses persalinan, ia juga membantu si ibu merawat bayinya. Tugasnya, kata dia, mengingatkan si ibu untuk memberi Air Susu Ibu (ASI) pada bayinya, kemudian juga mengingatkan para ibu untuk memberi makanan bergizi pada anaknya.

"Saya juga bertugas mengantar makanan bergizi seperti antar bubur kacang hijau untuk kesehatan ibu dan bayi, karena rata-rata orang disini miskin dan tidak sanggup beli makanan sehat, kadang makanan sehari-hari saja susah," katanya.

ASI Eksklusif

Namun, kata Maidiana, ada dua hal yang selalu menjadi tantangannya dalam bertugas sebagai bidan desa. Pertama katanya, pengetahuan masyarakat yang masih berfikir secara tradisional.

"Misal soal ASI eksklusif, kita sudah bilang ASI lebih baik dari makanan lain, tapi warga tetap saja memberi makan pisang atau nasi yang dihaluskan dan diberi pada bayinya, mereka takut anaknya kelaparan, sakit karena nggak makan dan sebagainya, padahal itu tadi, saya sudah sampaikan ASI jauh lebih baik," katanya.

Tak jarang, lanjut Maidiana, ia harus sering bolak-balik ke rumah si bayi, mengingatkan ibunya untuk memberikan ASI secara eksklusif. Kemudian, lanjutnya, luas desa yang ia tempati tersebut, terkadang membuat ia kewalahan. Katanya, jarak antar satu rumah, dari dusun ke dusun itu sangat jauh.

Tak cuma itu, kadang Maidiana sempat dimarahi oleh warga. Pengamanan itu katanya pernah terjadi ketika dirinya mendatangi rumah warga untuk memberikan bubur. "Saya dimarahi karena kacang hijau sedikit, kalau sedikit bisa beli sendiri kata mereka," kata Maidiana sambil tersenyum.

Meskipun begitu, Maidiana tidak mau mengeluh. Ia mengaku senang berinteraksi dengan masyarakat di desa pedalaman tersebut.

Maidiana hanya berharap bisa terus membantu masyarakat. "Meskipun lelah, menurut saya pekerjaan yang saya lakukan ini cukup mulia," kata dia. (ren)