Indra Azwan Cari Keadilan Berjalan Keliling Indonesia

Indra Azwan, warga Malang, Jawa Timur berjalan kaki mencari keadilan.
Sumber :
  • Wahyudi Agus/VIVA.co.id

VIVA.co.id - 23 Tahun sudah Indra Azwan (57), warga asal Malang, Jawa Timur, mencari keadilan atas kasus yang menimpa anaknya. Rifki Andika, putra sulung Indra tewas dalam kasus tabrak lari pada 8 Februari 1993 silam, saat hendak menyeberang jalan di depan rumah. Menurutnya, salah satu penabrak adalah anggota Polri, bernama Kompol Joko Sumantri.

Meski berumur sudah kepala lima, namun semangat Indra dalam mencari keadilan masih berkobar. Dengan berjalan kaki, bapak ini mengenakan kupluk menembus teriknya panas Kota Padang di siang hari. Senyuman tegar melekat di bawah kumisnya yang mulai memutih. Tak jarang, pria asal Malang ini menerima kenyataan pahit selama perjalanan. Entah di caci maki, dihina, bahkan dicap sebagai orang gila.
 
Mengenakan kaos hitam bermotif singa, celana loreng dan kaus kaki hitam, Indra hari ini, Senin 14 Maret 2016, berencana menemui Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno. Kedatangannya ini untuk meminta dukungan, terhadap ketidak pastian putusan Mahkamah Agung (MA). 
 
“Kepada MA berapa saya harus menebus salinan putusannya, 23 tahun mencari keadilan," demikian spanduk kecil yang menempel di punggung Indra. Spanduk ini tak pernah lepas darinya, sejak memulai perjalanan kaki dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dan melewati Provinsi Sumatera Utara, Riau serta Provinsi Kepulauan Riau, sejak 8 Februari.
 
Selama perjalanan, dia tidur di berbagai tempat, dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), teras warung milik warga, sampai warung kopi tempat persinggahan sopir truk pernah dijadikannya sebagai peristirahatan sementara. Indra bertekad belum akan berhenti berjalan kaki, selama menyuarakan tuntutan keadilan atas kematian putranya. Sebab sejak tragedi itu, belum ada kepastian hukum terhadap kasus itu.
 
Bahkan, untuk menebus salinan putusan MA itu, dia harus menyediakan uang ratusan juta rupiah. Selain itu, aksi ini juga demi menagih janji Presiden RI Joko Widodo, dalam mengusut tuntas dan menangkap pelaku penabrak putra sulungnya. 
 
“Hanya untuk salinan putusan, saya diminta untuk menyediakan uang ratusan juta,” katanya sesaat hendak menemui wakil gubernur.
 
 
Sesampai di kantor gubernur, Indra disambut petugas protokoler, berselang lima belas menit setelah dia mengisi buku tamu dan duduk di ruang tamu, dengan didampingi beberapa anggota Lembaga Bantuan Hukum Padang, Indra akhirnya diterima Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit.