TNI: Kasus Abu Sayyaf Beda dengan Sandera Garuda

Panglima TNI: Tiga Wilayah Rawan saat Natal
Sumber :
  • VIVA.co.id/Anwar Sadath

VIVA.co.id – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meminta publik tak berpandangan bahwa TNI bisa melakukan operasi pembebasan WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf, sama halnya dengan operasi pembebasan pesawat Garuda yang dikenal dengan operasi Woyla di Thailand.

"Jangan samakan dengan operasi Woyla. Operasi Woyla semua yang disandera itu ada di negara republik Indonesia," ujar Gatot di kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kemendagri, Jakarta Selatan, Sabtu, 23 April 2016.

Gatot menjelaskan maksud semua sandera berada di negara republik Indonesia, adalah pesawat tersebut berbendera Indonesia, meski pesawatnya berada di negara Gajah Putih. "Jadi kalau pesawat berbendera Indonesia itu sama artinya dengan negara. Terus itu dapat izin dari pemerintah Thailand," kata Gatot.

Meski demikia, Gatot menambahkan, bisa memahami kekhawatiran keselamatan para keluarga korban yang disandera. Terlebih belum adanya kepastian kapan para sandera akan bisa dibebaskan. "Saya paham, kalau saya jadi keluarga juga khawatir. Apalagi waktunya lama dan sampai sekarang belum ada kepastian. Saya kira itu bisa dipahami bersama," ujar dia.

Gatot berujar, selama ini, setiap saat TNI selalu memantau para sandera. Katanya, saat ini semua sandera diketahui masih dalam kondisi sehat. TNI juga kata dia sudah menyiapkan sejumlah pasukan di beberapa titik guna melakukan tindakan tegas. Hanya saja, konstitusi hukum negara Filipina tak mengijinkan pasukan lain dari luar negara masuk Filipina.

"Kita harus tahu di Filipina ada UU tersendiri di mana tak mengizinkan pasukan dari luar untuk masuk ke negaranya. Makanya bagaimana pun juga kita tak mungkin lakukan itu (lakukan operasi pembebasan tanpa dapat izin)," ungkap Gatot.

Pada 28 Maret 1981 silam, pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan 2016, asal Bandara Talang Betutu, Palembang dengan tujuan ke Bandara Internasional Polonia Medan dibajak lima orang teroris. Pesawat sempat transit di Malaysia untuk mengisi bahan bakar, kemudian terbang lagi ke Filipina. Drama pembajakan tersebut akhirnya berakhir di Bandara Don Mueang Bangkok pada 31 Maret 1981, usai pasukan Kopassus TNI melakukan operasi penyelamatan kilat.