Keluarga Kapten Kapal Brahma 12 Tunggu Telepon Pemerintah

Ayah dan ibu Peter Tonsen Barahama, kapten kapal yang disandera milisi Abu Sayyaf, ditemui di Manado, Sulawesi Utara, pada Rabu, 30 Maret 2016.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Agustinus Hari

VIVA.co.id – Keluarga dari anak buah kapal (ABK) Brahma 12 masih menunggu informasi resmi dari Pemerintah Indonesia terkait pembebasan 10 WNI sandera Abu Sayyaf yang dibebaskan hari ini, Minggu, 1 Mei 2016. Seluruh sandera yang dibebaskan hingga saat ini masih berada di rumah Gubernur Jolo Abdusakur Tan.

Sofitje Salemburung dan Charlos Barahama, orangtua dari kapten Kapal Brahma 12, Peter Tonsen Barahama, mengaku belum mendapat kabar soal pembebasan itu.

"Kami belum tahu. Pihak perusahaan sampai sekarang belum memberitahu kabar pembebasan tersebut," ujar Sofitje dan Charlos, Minggu 1 Mei 2016.

Hanya saja mereka menyatakan syukur bila informasi pembebasan itu memang benar adanya. Keluarga sampai saat ini juga belum mempercayai informasi yang beredar melalui media.

"Jujur saja kami belum percaya dengan berita-berita selama ini. Kami percaya kalau anak kami sudah di hadapan kami. Tapi syukurlah kalau memang dibebaskan," ujar Sofitje.

Sementara Charlos menambahkan, meski perjuangan pemerintah belum ada hasilnya, lanjut dia keluarga korban tetap mendukung dengan doa.

"Kami hanya bisa pasrah dalam doa. Biarlah Tuhan yang bekerja. Kami percaya di dalam tangan-Nya ada keselamatan. Ia Sang Kuasa akan membantu mengembalikan putra kami ke pangkuan kami," kata Carlos.

Menurut informasi dari Kepolisian Filipina, kelompok Abu Sayyaf hingga kini masih menyandera 11 warga asing. Empat di antaranya warga negara Indonesia, empat warga Malaysia, seorang warga Kanada, seorang warga Norwegia, dan seorang lagi warga negara Belanda. Empat WNI yang masih ditawan diketahui merupakan korban pembajakan gelombang kedua yang dilakukan kelompok Abu Sayyaf.