Lelaki Kardus, Lagu 'Kotor' yang Dinyanyikan Bocah Perempuan

Cuplikan video klip Lelaki Kardus yang dinyanyikan seprang bocah perempuan asal Kabupaten Bangkalan Madura.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Youtube

VIVA.co.id – Sebuah klip musik yang menampilkan seorang anak perempuan dengan judul lagu Lelaki Kardus, menjadi cemoohan netizen di jejaring sosial. Lagu itu dinilai tak pantas karena menggunakan lirik 'kotor' yang tidak selayaknya dinyanyikan oleh seorang bocah.

Dari penelusuran VIVA.co.id, di jejaring sosial video Lelaki Kardus ini memang telah banyak dibagikan dan mendapatkan penonton hingga lebih dari 1.000 kali dan nyaris seluruhnya menghujat penampilan lagu yang dibawa bocah perempuan yang diperkirakan masih berusia 12 tahun tersebut. (Baca : )

Lagu ini diketahui diciptakan oleh seorang pria bernama Imam Samawi. Dalam liriknya, menceritakan kekesalan seorang anak yang mengetahui ayahnya bercerai dan menikah lagi dengan perempuan selain ibunya.

"Bapakku kawin lagi, aku ditinggalin, ibuku diduain. Ibuku minta cerai tapi dipukulin. Bapakku pengkhianat, ibuku dibohongin," demikian penggalan lirik yang dinyanyikan dalam lagu Lelaki kardus seprti dikutip VIVA.co.id, Kamis 30 Juni 2016.

Kisah Nyata
Sementara itu, sejak mencuatnya lagu Lelaki kardus,  Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun telah melakukan penelusuran terhadap pembuat lagu dan video klip tersebut.

Sejauh ini dari informasi yang didapat KPAI, diketahui lagu itu diduga berasal dari Kabupaten Bangkalan di Pulau Madura. "Lirik lagu itu diciptakan karena kisah nyata seorang ibu dan anaknya di Bangkalan, Madura. Si ibu dan anaknya trauma sampai tak bisa berbicara," kata Ketua KPAI Asrorun Niam dalam keterangan tertulisnya.

KPAI telah mendesak pemerintah setempat untuk melakukan rehabilitasi kepada bocah perempuan yang menjadi penyanyi lagu Lelaki Kardus. Sebab, ia diduga mengalami trauma psikis akibat perceraian orang tuanya. "Ayahnya dan istri keduanya meninggalkan anak tersebut dan sekarang ada di Bali," kata Asrorun.

Dan terkait beredarnya video tersebut, KPAI mengecam keras peredaran itu. Asrorun menilai hal tersebut tidak pantas dan tidak memiliki pesan pendidikan kepada masyarakat. "Lagu dewasa itu terasa aneh dinyanyikan seorang anak. Apalagi ada bahasa yang kasar," kata dia.

(ren)