Awal Mula Muncul Kafe Jamban di Semarang

Kafe jamban.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Dwi Royanto

VIVA co.id - Budi Laksono (52 tahun), memunculkan ide aneh dengan membuat Kafe Jamban di Jalan Untung Suropati Nomor 445, Kecamatan Ngaliyan, Semarang. Gagasan Budi kini memunculkan kontroversi. Pro dan kontra masyarakat terus mengalir, khususnya di media sosial.

Namun tak banyak yang tahu, di balik ide aneh itu, ternyata ada sebuah kampanye besar kesehatan khususnya terkait pentingnya sanitasi di Indonesia.

Budi, pemilik Kafe Jamban ternyata merupakan dokter dan dosen di sejumlah perguruan tinggi di Semarang. Ia yang juga sebagai dokter bantu Universitas di Australia itu bahkan telah menjadi pegiat tentang kampanye jamban sehat di Indonesia selama 15 tahun terakhir.

"Awal mula muncul ide Kafe Jamban berawal saat saya di Korea tahun 2013 lalu. Di sana ada Kafe Jamban, museum jamban yang sangat besar sebagai pembelajaran pentingnya sanitasi. Nah, di Indonesia persoalan sanitasi masih cukup memprihatinkan," ujar Budi ditemui VIVA.co.id, Kamis, 30 Juni 2016.

Berangkat dari persoalan itu muncul ide Kafe Jamban miliknya. Budi sebenarnya telah berjuang membangun sanitasi jamban sehat di berbagai pelosok daerah sejak 2005 lalu. Tercatat, sebanyak 173.000 jamban ia bangun bersama Yayasan Wahana Bakti Sejahtera Semarang hasil rintisannya.

"Saat ini masih ada 94,5 juta keluarga di Indonesia yang enggak punya jamban. Maka dengan kampanye jamban ini kita sedang berjuang," kata Budi.

Semenjak berprofesi menjadi dokter bapak empat anak itu bahkan telah memiliki cita-cita untuk mewujudkan jamban sehat dimiliki oleh seluruh keluarga Indonesia. Cita-cita itu terus digalakkan dengan slogan 'WC for All Family' bersama sejumlah relawan.

Namun untuk mewujudkan cita-citanya tersebut rupanya tak cukup mudah. Keterbatasan pendanaan tentu membuatnya harus sabar membuat program mandiri tanpa biaya pemerintah untuk membuat jamban sehat di sejumlah perkampungan.

Apalagi selama ini masih banyak masyarakat Indonesia yang menganggap keberadaan jamban sehat sebagai hal yang tidak penting. Mereka lebih memilih membuang air di tempat-tempat terbuka seperti sungai dan tempat lain yang justru menimbulkan penyakit.

"Banyak orang lebih memilih membangun jamban itu persoalan belakangan. Dan negara lebih banyak membangun jalan tol dan gedung daripada mementingkan persoalan sanitasi. Padahal itu masalah krusial kesehatan masyarakat kita," kata Budi.

Melalui gerakan kecil di Cafe Jamban miliknya, warga asli Semarang itu berharap bisa menjadi kampanye kecil untuk mewujudkan cita-citanya selama ini. Kafe Jamban sengaja didesain khusus sebagai ajang sosialisasi, diskusi serta berbagi ilmu tentang kesehatan, khususnya persoalan sanitasi.

Meski terkesan aneh dan sarat kontroversi, Kafe Jamban milik Budi ternyata telah banyak diminati mereka dari kalangan mahasiswa. Pada sebuah sesi khusus, mereka akan diajak diskusi dan berbagi pengalaman tentang gerakan membangun jamban di Indonesia. Budi bahkan bertindak sebagai mentor yang memberikan materi.

Ada satu sesi yang cukup unik di Kafe Jamban ini. Budi menyebutnya sesi 'atraksi', pengunjung akan secara langsung menikmati makanan dan minuman yang disajikan langsung di atas dua closet duduk. Tentu saja closet itu telah dipastikan steril dari kuman karena telah dibersihkan dengan lima persen alkohol.

"Biasanya kita hidangkan menu bakso dan minumannya. Pengunjung memang ada yang jijik, tapi banyak yang tidak. Bahkan kita sudah sediakan tempat untuk muntah tapi tidak pernah terpakai," kata dia.

Pengunjung yang datang bahkan diberi keleluasaan untuk membayar seikhlasnya. Menurut Budi, paling penting dari Kafe Jamban ini pengunjung akan menyadari peran untuk kampanye jamban di daerahnya masing-masing.

"Sebenarnya kita tidak matok harga. Hanya saja kita ada kotak donasi untuk buat membangun jamban di daerah-daerah. Paling satu sesi itu terkumpul Rp50 ribu, tidak masalah," katanya.

Kontroversi Kafe Jamban ini berawal dari beredarnya foto-foto pengunjung yang tengah asyik bersantai menikmati makanan di atas closet. Foto itu kemudian secara viral menyebar dan mendapat tanggapan beragam.

Ada netizen yang mengapresiasi ide kreatif sang pembuat kafe, ada juga netizen yang menganggap ide tersebut sebagai sesuatu hal yang konyol dan tidak pantas. Sejumlah netizen bahkan menyerukan petisi agar Kafe Jamban itu tak ditayangkan di televisi Indonesia.