Aparat Kini Buru Istri Kedua Santoso, Basri, dan Istrinya

Istri terduga teroris Poso, Santoso alias Abu Wardah ikut bergerilya di Pegunungan Biru, Poso.
Sumber :
  • VIVA/Abdullah Hamman

VIVA.co.id –  Tiga anggota kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) berhasil melarikan diri saat baku tembak dengan Satgas Tinombala di Tambarana, Poso Pesisir Utara, Sulawesi Tengah, Senin lalu. Dalam penyergapan ini, pemimpin MIT yang juga gembong teroris, Santoso alias Abu Wardah, dan asistennya, Muchtar alias Kahar, tewas.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat dari Polda Sulawesi Tengah, Ajun Komisaris Besar Polisi Hari Suprapto, mengatakan kelompok teroris yang berhasil kabur pada saat baku tembak terdiri dari dua orang perempuan dan satu laki-laki yang masih membawa senjata laras panjang yang diperkirakan jenis M-16.

"Dugaan sementara ini adalah istri kedua Santoso, Basri alias Barok dan istrinya," kata Hari Suprapto kepada VIVA.co.id, Rabu, 20 Juli 2016.

Kelompok teroris pimpinan Santoso memang menyertakan wanita sebagai pembuka jalan dalam upaya pelarian mereka di Gunung Biru, Tamanjeka, Poso Pesisir Utara, Poso. Penyergapan Santoso yang akhirnya ditembak mati tim Alfa 29 yang terdiri dari prajurit Batalion Infanteri 515 Raider Kostrad juga dilakukan setelah mengintai dua orang perempuan di daerah yang telah diidentifikasi sebelumnya.  

"Mengirimkan perempuan untuk memastikan jalan mereka aman. Setelah dianggap aman, mereka panggil kelompok ini (Santoso). Tapi pengintaian sudah dilakukan, setelah mengetahui ada yang membawa senjata, penyergapan dilakukan," kata Pangdam VII Wirabuana, Mayor Jenderal TNI Agus Surya Bakti.

Proses penyergapan terhadap Santoso bukan sebuah kebetulan. Operasi telah dilakukan sejak lama dan akhirnya dapat memastikan Santoso dan kelompoknya ada di satu tempat.

"Posisi Santoso dekat dan masuk sektor Raider," katanya.

Perburuan terhadap istri kedua santoso, Basri dan istrinya yang membawa senjata M-16 mulai dilakukan. Titik tertentu yang sudah diidentifikasi akan dituju untuk menangkap hidup atau mati ketiganya.

Bukan tugas mudah bagi Basri untuk menjaga kedua wanita itu dalam hutan belantara seorang diri, meski mengetahui medan Gunung Biru, tapi dengan dua orang wanita, pergerakan Basri akan sangat terbatas.

Sebagai orang tertua dalam kelompok itu, Agus meminta Basri untuk menyerahka diri. Setelah Santoso tewas, kelompok Santoso hanya tersisi 19 orang.

"Kita kejar pada titik tertentu yang sudah diidentifikasi. Sebaiknya mereka segera menyerahkan diri agar tidak jatuh korban," kata dia.

Kini, jenazah Santoso dan Muchtar sudah berada di Rumah Sakit Bhayangkara Palu, Sulawesi Tengah untuk dilakukan proses identifikasi lebih lanjut. Dari identifikasi luar sudah dapat dipastikan jasad yang ditembak mati adalah Santoso dan Muchtar. Namun begitu, polisi akan memastikan identitas keduanya dengan test DNA dengan data pembanding keluarga.

(ren)