Cegah Kebakaran, Ribuan Sumur Bor Dibangun di Lahan Gambut

Ilustrasi-Penanganan kebakaran hutan dan lahan Gambut di Kalimantan Barat
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang

VIVA.co.id – Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG), Nazir Foead berencana menambah pembangunan sumur bor dan mesin robin guna penanganan kebakaran lahan gambut yang terjadi di Riau. Menurutnya, cara tersebut terbukti ampuh dalam memadamkan beberapa titik api di kawasan bergambut, seperti di Rimbo Panjang, Kampar, Riau.

"Sumur bor terbukti efektif terutama di wilayah-wilayah yang sudah tidak memiliki sumber air," ujar Nazir Foead dalam keterangan persnya, Senin, 29 Agustus 2016.

Nazir juga langsung merespon keluhan anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) dengan menambah 100 unit sumur bor dan 20 unit mesin robin dalam pekan ini. Saat ini, BRG telah membangun 300 sumur bor di Riau dan Kalimantan Tengah.

Dalam APBN-P 2016, akan dibangun 4000 sumur bor. Selain BRG, pembangunan sumur bor juga dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Pemerintah Daerah. BRG telah berkoordinasi untuk pelaksanaan kegiatan itu, khususnya untuk pembagian lokasi pembangunan.

Untuk pembangunan sumur bor, BRG mempercayakan kepada MPA, yang sebelumnya telah dilatih. Di Rimbo Panjang, setelah pelatihan oleh BRG, masyarakat desa dan MPA-nya secara swadaya membangun tambahan 10 sumur dari 50 yang dibangun BRG.

Keampuhan sumur bor juga disampaikan salah satu anggota MPA Rimbo Panjang, Syahrial. Sumur bor yang mereka pasang di dekat Jalan Madura, terbukti ampuh memadamkan api seluas 600 meter yang nyaris merambah areal lahan sekitarnya.

"Kejadiannya Rabu lalu. Kami  yang berpatroli menemukannya, segera lapor Posko, kita datang cepat. Jarak sumur bor dengan lokasi kebakaran hanya 150 meter. Kita buat bloking apinya sehingga tidak merambat lebih luas, dan air yang keluar juga melimpah. Dalam waktu empat jam saja api itu bisa dipadamkan. Termasuk waktu pendinginannya," ujarnya.

Terkait upaya restorasi gambut yang diusung BRG, Nazir mengatakan, saat ini BRG terus melakukan upaya pemulihannya dengan cara 3 R yaitu R1 adalah rewetting (pembasahan gambut) dengan cara membuat sekat kanal, penimbunan kanal, dan sumur bor. R2 adalah revegetasi dengan membuat penyemaian dan pembibitan dilahan gambut yang rusak, penanaman dan regenerasi alami. Terakhir R3, revitalisasi sumber mata pencaharian dengan mendorong palucilcuture seperti menanam tanaman bernilai ekonomi namun ramah gambut, perikanan, dan ekoturisme.

"Saat ini BRG juga tengah memetakan areal gambut milik perusahaan dimana mereka harus bertanggung jawab. Telah disepakati dalam rapat dengan kabinet bahwa perusahaan harus bertaggung jawab sepenuhnya melindungi gambutnya yang masih utuh dan masih baik. Sementara jika gambutnya sudah rusak maka harus segera direstorasi," ujarnya.

Ia menambahkan, saat ini terdapat 1,1 juta hektare lahan kubah gambut yang masih bagus di areal konsesi. Pemerintah mewajibkan setiap perusahaan untuk melindunginya. Pemerintah juga telah mengeluarkan instruksi yang sifatnya permanen, dimana kubah gambut itu tidak bisa diganggu gugat.

"Saat ini sudah ada 1,72 ha kubah gambut yang telah dibuka dan dikeringkan dengan cara kanalisasi oleh perusahaan. BRG meminta agar perusahaan segera menghentikan aktivitas merusak dan segera memperbaikinya."

(mus)