TNI: Pengadang Ketua Badan Restorasi Gambut Bukan Kopassus

Pemadaman Kebakaran Hutan di Jambi
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Wahyu Putro

VIVA.co.id – Komando Resor Militer (Korem) 031/Wirabima memastikan bahwa petugas keamanan di lahan konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) bukan anggota Kopassus. Hal itu ditegaskan Kepala Staf Korem 031/Wirabima, Kolonel Czi I Nyoman Parwata.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG), Nazir Foead, membenarkan bahwa dia dan tim diadang oleh petugas keamanan lahan konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) saat melakukan inspeksi mendadak (sidak).

Nazir tidak diperbolehkan masuk untuk melihat lahan yang diketahui termasuk area kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau tersebut.

"Perlu dicek itu, karena Korem belum terima tembusan kalau ada anggota Kopassus di wilayah. Info dari PT RAPP, yang jaga itu security outsourcing dari salah satu securitas yang pernah dilatih belanegara di Lemdik Kopassus," jelas Kolonel Czi I Nyoman Parwata.
 .
Makanya, lanjut Kasrem 031/Wirabima, logo yang menempel di baju petugas keamanan itu bertuliskan keluarga besar Kopassus, bukan Kopassus TNI AD.

Sementara itu, selain melakukan pemadaman, saat ini TNI dan Polri serta pihak terkait lainnya, juga menindak pelaku pembakar lahan. Salah satunya melakukan penyisiran di kawasan lahan terbakar.

Aparat menemukan gubuk yang didirikan oleh pelaku pembakaran di lahan yang sudah dibakar. Satgas menangkap pelaku beserta barang bukti, lalu membakar gubuk yang didirikan di kawasan hutan tersebut.

"Kenapa gubuk itu dibakar? karena bisa dipastikan bahwa penghuni gubuk tersebut adalah pelaku pembakaran hutan yang akan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Hal ini dapat dipastikan dengan kondisi yang  dilihat pada sore hari sebelumnya," ujar Nyoman.

Penghuni gubuk tersebut sengaja membiarkan hutan terbakar. Setelah itu mereka membangun gubuk di lokasi hutan yang telah dibakar. Barang bukti berupa gubuk yang ditemukan petugas semakin memperkuat dugaan tersebut.

"Jadi sudah sepantasnya gubuk itu dibakar untuk memberikan efek jera dan contoh bagi pelaku perambah yang lainnya," tegasnya.

Nyoman menegaskan, Pangdam I/Bukit Barisan telah menginstruksikan menindak tegas pelaku pembakaran hutan dan lahan, karena pelaku sudah mulai berbuat seenaknya. Sementara Satgas berjuang sekuat tenaga mencegah dan memadamkan api yang muncul agar tidak menimbulkan asap. Bahkan sampai seorang prajurit TNI gugur dalam melaksanakan tugas operasi tersebut.

"Pembersihan gubuk-gubuk perambah di wilayah hutan masih perlu dilaksanakan. Kita akan laksanakan operasi yustisi untuk mendata orang-orang yang berada dan membangun gubuk di dalam kawasan hutan lindung sehingga dapat dikategorikan sebagai perambah," ujarnya.

(ren)