Pengikut Dimas Kanjeng Tutup Diri dari Keluarga

Taat Pribadi alias Dimas Kanjeng saat digiring petugas di gedung Ditreskrimum Polda Jatim, Surabaya, pada Rabu, 28 September 2016.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Nur Faishal

VIVA.co.id – Pengikut padepokan Dimas Kanjeng asal Garut, Jawa Barat, diketahui masih bertahan di padepokan yang ada di Probolinggo Jawa Timur. Mereka juga diakui keluarga masih menutup diri, sejak Taat Pribadi ditangkap Polda Jawa Timur karena diduga membunuh dua pengikutnya. 

Ada enam pengikut Taat Pribadi yang berasal dari Kampung Karyamukti, Desa Sukalilah, Kecamatan Kersamanah, Garut. Anggota keluarga para pengikut ini mengakui awalnya ada dua orang keluarga mereka yang menjadi pengikut. 

Mereka yang memelopori adalah Janjan dan Diran, keduanya saat ini masih bertahan di padepokan. Kepada pihak keluarga, awalnya Janjan dan Diran tidak mengakui menjadi pengikut Dimas Kanjeng.

"Tapi setelah didesak oleh keluarga, keduanya mengakuinya, bahkan ikut dalam ritual penggandaan uang," ungkap Lia Elya, salah satu anggota keluarga dari Janjan dan Diran, di kediamannya, Sabtu, 8 Oktober 2016.

Lia melanjutkan, Janjan dan Diran sempat meminta uang pada keluarga untuk memenuhi kebutuhan makan dan beragam biaya lain selama berada di padepokan.

"Janjan dan Diran sempat minta uang kepada kami, namun enggak dikasih," ucapnya.

Dari Janjan dan Diran, tetangga mereka juga jadi pengikut Dimas Kanjeng, mereka adalah Oton, Taryo, Cecep Kurnia, dan Ade.

"Tetangga saya sudah habis uang hingga menjual barang-barang berharga untuk diserahkan," jelasnya.

Buah Bibir

Selain di Garut, pengikut Taat Pribadi juga ada di Kota Bandung Jawa Barat. Salah satunya Imansyah, warga Kelurahan Derwati, Kecamatan Rancasari. Ketua RT tempat Imansyah, Dadang Darmana, mengaku terkejut dengan adanya pengikut di wilayahnya. 

Sebab, Iman selama ini dikenal masyarakat sebagai ustaz yang rutin menggelar kegiatan di masjid Al-Badriah. Namun belakangan, dia tak lagi terlihat menjalani aktivitas. "Dari hari kedua bulan puasa sudah enggak kelihatan," ujar Dadang di Bandung, Sabtu, 8 Oktober 2016.

Sebelumnya kecurigaan itu tidak timbul karena Iman kerap ke luar kota untuk berceramah. Namun, suatu waktu sosok Iman kedapatan muncul dalam pemberitaan di media massa mengenai padepokan Dimas Kanjeng.

"Saya pertama kali melihat dari kiriman foto warga. Pak Iman kelihatan di televisi waktu sedang ramai-ramainya pemberitaan tentang Dimas Kanjeng," ungkapnya.

Akibatnya, Iman menjadi buah bibir masyarakat setempat. Apalagi dia dikenal sebagai guru agama yang sering berdakwah mengenai Islam. Sehingga warga sulit menerima jika Iman menjadi korban Dimas Kanjeng. "Ya kaget lah, dia itu bisa dibilang panutan kami. Dia ustaz," ungkapnya.