BNPT Waspadai Serangan Teroris Pemain Tunggal

Barang bukti dari tangan pelaku Sultan Azianza, pelaku penyerangan tiga polisi
Sumber :
  • VIVA.co.id/Syaefullah

VIVA.co.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPT) mewaspadai  fenomena alone wolf (pemain tunggal) dalam serangan teroris. Sebab, serangan teroris seperti yang terjadi di Medan dan Tangerang cenderung dilakukan pemain tunggal bukan jaringan.

"Seperti Ivan di Medan dan Sultan di Tangerang itu, merupakan fenomena alone wolf. Mereka melakukan aksi serangan teroris, karena terinspirasi oleh ajaran radikalisme ISIS di sosial media," kata Kepala BNPT Suhardi Alius, saat ditemui di Solo Baru, Jumat 21 Oktober 2016.

Serangan yang dilakukan oleh Ivan dan Sultan, menurut Suhardi, dalam rangka menafsirkan perintah dari ajaran ISIS untuk melakukan kegiatan amaliyah di daerahnya masing-masing. Sebab, saat ini untuk masuk ke Suriah sudah sulit, sehingga untuk melakukan amaliyah bisa dilakukan di daerah-daerah.

"Untuk masuk ke sana (Suriah) dan hidup di sana, juga susah. Maka keluarlah perintah untuk melakukan serangan teror di daerahnya masing-masing. Ivan dan Sultan menafsirkan dari inspirasi itu dan melakukannya di sini," ujarnya.

Serangan teror, dikatakannya, tidak harus menggunakan bom, namun bisa dengan apapun. Hal tersebut terlihat, saat serangan teror yang terjadi di Prancis, dengan menggunakan truk untuk menabrak di jalan raya.
 
"Enggak bisa pakai bom, teror bisa dilakukan dengan cara lain. Seperti yang dilalukan Ivan dengan membawa belati mengejar-ngejar pendeta. Begitu pula, Sultan membawa golok untuk menusuk polisi," ungkapnya.

Dengan melakukan teror seperti itu, kata dia, menunjukkan tindakannya tersebut sebagai bagian dari kelompok pendukung ISIS. "Itu bisa dilihat dari sejumlah stiker yang ditempelkan Sultan. Itu jelas, terinspirasi dari sana," ucapnya.

Lantas, munculnya aksi serangan teror yang dilakukan pelaku tunggal seperti itu menyebabkan pihaknya pun mewaspadai fenomena alone wolf. "Nantinya, fenomena itu akan berkembang dengan masing-masing jaringan untuk itu mesti diantisipasi dengan baik," katanya.

Sasaran teror saat ini, menurut Suhardi, memang mengarah kepada aparat negara seperti polisi dan TNI. Selain itu, mereka juga akan melawan kepada siapa pun yang melawannya. "Ada seorang anak yang mengkafirkan orangtuany,a karena orangtua tidak mau mengikuti ajaran anaknya," ujarnya. (asp)