Eks Instruktur Bom JI Ungkap Kecerobohan Teroris Sekarang

Ilustrasi penangkapan teroris
Sumber :
  • VIVA.co.id/M Ali Wafa

VIVA.co.id - Ali Fauzi, mantan instruktur bom Jamaah Islamiyah perwakilan Jawa Timur, menyebut sebagian besar kelompok maupun jaringan teroris sekarang tergolong amatir dan tak memiliki pengalaman serta pengetahuan yang memadai. Mereka mudah dilacak dan ditangkap polisi.

Adik pelaku bom Bali, Amrozi dan Ali Imron, itu bahkan menyebut para tersangka maupun terduga teroris sekarang bertindak ceroboh. Dia mencontohkan satu kecerobohan fatal para ekstremis itu, misal, menggunakan perangkat seperti telepon seluler (ponsel) atau ponsel pintar dengan sistem operasi Android untuk berkomunikasi. Perangkat teknologi itu memudahkan polisi untuk melacak mereka.

Polisi, kata Ali, sudah memiliki sampel rekaman suara Bahrun Naim, seorang di antara tiga pemimpin kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Indonesia dan Asia Tenggara. “Sehingga siapapun yang berhubungan dengan Bahrun Naim akan mudah dideteksi,” katanya saat berbincang dengan tvOne dalam program Apa Kabar Indonesia Pagi pada Kamis pagi, 22 Desember 2016.

Namun, kata mantan teroris asal Lamongan, Jawa Timur, itu mengungkapkan secara samar-samar bahwa sebenarnya ada satu kelompok atau jaringan teroris yang cukup pandai dan sulit dilacak. “Ada satu yang masih susah diendus, mereka cukup pandai; klandestien, bergerak underground (bawah tanah).”

Sayangnya dia tak menjelaskan dengan detail identitas kelompok itu, bagian jaringan Bahrun Naim, Bahrumsyah, dan Salim Mubarok atau faksi lain yang sama-sama berafiliasi dengan ISIS.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bagian Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan Masyarakta Polri, Komisaris Besar Polisi Martinus Sitompul, mengungkapkan bahwa para tersangka dan terduga teroris yang ditangkap di sejumlah daerah kemarin itu adalah kelompok dengan jaringan yang sama.

Sebagian mereka, kata Martinus, sebenarnya tak saling terkait atau bahkan tak saling mengenal tetapi sama-sama berafiliasi dengan Bahrun Naim. “Mereka tidak saling terhubung tapi berafiliasi ke Bahrun Naim. Mereka memiliki peran berbeda tapi sama-sama merekrut (anggota) dan merakit bom,” ujarnya. (ase)