Istana Cium Ada Politisasi di Balik Isu Tenaga Kerja China

Mantan Kepala Staf Kepresidenan RI, Teten Masduki.
Sumber :
  • VIVAnews/Muhamad Solihin

VIVA.co.id – Isu membanjirnya tenaga kerja asal China ke Indonesia, tetap dianggap sebagai kabar yang tidak masuk akal. Bahkan, dinilai kental isu politik.
 
Kepala Staf Presiden, Teten Masduki, menjabarkan kenapa isu 10 juta tenaga kerja China ke Indonesia tidak masuk akal.

"Satu persen pertumbuhan ekonomi itu kan baru bisa nyerap paling banyak 300 ribu orang. Kalau ada 10 juta tenaga kerja asing ya angka pertumbuhannya harus 33 persen. Dari mana? Di tahun ini kan kita hanya 5,1 persen," kata Teten di Istana Negara, Jakarta, Jumat 30 Desember 2016.

Begitu juga dengan proyek-proyek yang dilakukan saat ini. Menurutnya, antara jumlah proyek dengan jumlah tenaga kerja yang diisukan 10 juta itu, tidak sepadan.

Sebab, kalau angka 10 juta tentu harus terserap. Sementara jumlah proyek dan kebutuhan tenaganya tidak bisa menampung jumlah itu.

"Jadi atas alasan apa mereka datang. Bahwa ada pekerja ilegal pasti ada saja, orang Indonesia juga banyak di luar yang ilegal. Tapi sekarang kan pemerintah sudah mulai melakukan tindakan. Menaker sudah diperintahkan oleh Presiden untuk merespons isu-isu adanya tenaga kerja asing itu," jelas Teten.

Teten menilai, isu ini hanya untuk mendiskreditkan pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla. Muatan politik di balik isu ini, menurut Teten, jauh lebih kuat.

Sebab, lanjut Teten, untuk dominasi proyek di Indonesia, bukan China yang banyak menggarap. Bahkan, menurutnya, Jepang lebih banyak daripada China.

"Ya saya kira ada motif politik untuk menunjukkan seolah-olah ada dominasi Tiongkok terhadap ekonomi Indonesia. Ini yang menurut saya lebih pada framing politik," ujar Teten.