Mantan Rektor UII Ikhlas jika Disanksi Pensiun Dini

Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Harsoyo, mengundurkan diri dari jabatannya.
Sumber :
  • ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

VIVA.co.id - Harsoyo mengungkapkan alasan mendasar dia mengundurkan diri sebagai Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta setelah tiga mahasiswanya meninggal dunia usai mengikuti pendidikan dasar mahasiswa pencinta alam (mapala).

Pengunduran diri itu, katanya, bukan karena dipaksa pihak-pihak tertentu, termasuk Menteri Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), melainkan sebagai pertanggungjawaban moral atas amanat yang diembannya. Seorang mahasiswa saja yang meninggal dunia sudah menghebohkan, apalagi sampai tiga. Peristiwa semacam ini tidak pernah terjadi di Indonesia.

"Saya mengundurkan diri setelah mendapatkan laporan tiga mahasiswa UII meninggal dunia," katanya kepada wartawan di Yogyakarta pada Minggu, 29 Januari 2017.

Menurutnya, draf pengajuan pengunduran diri itu disampaikan kepada Ketua Badan Wakaf UII, Luthfi Hassan, beberapa jam sebelum mendapat informasi Menristek Dikti datang ke Yogyakarta. Dia kemudian menyampaikan pengunduran diri itu di hadapan civitas akademika UII dan Menristek Dikti.

Meski demikian, kata Harsoyo, pengunduran diri itu tidak berarti meninggalkan tanggung jawab. “Saya tidak tinggal gelanggang atau meninggalkan peperangan, tapi ini sebagai pertanggungjawaban saya sebagai penerima amanat,” ujarnya.

Dia meminta tidak ada lagi mahasiswa atau pun pihak lain yang memunculkan manuver menolak pengundurannya, atau dengan gerakan lain seperti #saveharsoyo dan sebagainya. Manuver semacam itu berakibat tidak baik baginya.

“Orang kemudian bisa menganggap saya sebenarnya tidak mau mundur, karena itu mendukung saya untuk mengembalikan amanat ini,” ujarnya.

Pengunduran diri itu, kata Harsoyo, juga untuk membantu UII agar terbebas dari berbagai kesulitan, termasuk kemungkinan ancaman sanksi manajemen. Soalnya Menristek Dikti juga sudah menyebutkan ada kesalahan manajemen.

Kesalahan itu salah satunya adalah Rektor tidak menunjuk seorang dosen untuk mendampingi kegiatan dan berada di lokasi kegiatan mahasiswa. Padahal kegiatan itu jelas-jelas berisiko.

Ia mengaku berat menghadapi hal itu. Apalagi UII adalah perguruan tinggi nasional pertama di Indonesia serta perguruan tinggi Islam terbesar yang mengedepankan rahmatan lil alamin.

Kalau pun Kementerian Ristek Dikti menjatuhkan sanksi kepadanya, Harsoyo ikhlas menerimanya. Dia juga berjanji tidak akan menggugat kebijakan itu kepada Pengadilan Tata Usaha Negara.

“Apalagi tinggal dua tahun lagi saya pensiun. Kalau kemudian harus menjalani pensiun dini, akan saya terima,” katanya.

Pengunduran diri Harsoyo diikuti Wakil Rektor III, Nurjamil. Dia beralasan sebagai Wakil Rektor yang bertanggung jawab atas kegiatan kemahasiswaan ternyata tidak mampu mengantisipasi insiden itu. Dia kemudian memilih mengundurkan diri dan siap menerima sanksi.

Enam belas mahasiswa

Pada kesempatan itu, Harsoyo mengungkapkan bentuk pertanggungjawaban lain adalah mengantar 16 mahasiswa yang menjadi panitia kegiatan pendidikan dasar mapala menjalani pemeriksaan di Polres Karanganyar, Jawa Tengah.

“Surat dari Polres Karanganyar agar saya menyerahkan enam belas mahasiswa untuk diperiksa di Polres sudah saya terima,” katanya.

Keenam belas mahasiswa itu dijadwalkan diperiksa di Marka Polres Karanganyar pada Selasa, 31 Januari 2017. “Saya sendiri yang akan mengantar mereka,” ujarnya.

Menurut Ketua Tim Internal UII, Muzayin, tim bentukan Rektorat UII sudah mengidentifikasi jenis-jenis kekerasan yang diterima para peserta kegiatan mapala itu. Namun ia enggan merincinya.

Sudah ada dua orang atau lebih yang dibidik sebagai tersangka. Namun Muzayin juga tidak bersedia menyebutkan identitas mereka.

Tiga mahasiswa UII itu tewas setelah mengikuti pendidikan dasar mahasiswa pencinta alam di Gunung Lawu, Lereng Selatan, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada 13-20 Januari 2017. Mereka, antara lain, Ilham Nurfadmi Listia Adi, Muhammad Fadhli, dan Syaits Asyam.

Muhammad Fadhli meninggal dunia dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar pada 20 Januari. Syaits Asyam dan Ilham Nurfadmi Listia Adi mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, masing-masing pada 21 Januari dan 24 Januari.