Lihat, Anak-anak Tangguh di Perbatasan Mengejar Mimpi

Siswa SDN 04 Sungkung Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat, tak bersepatu dan memiliki tas untuk sekolah.
Sumber :
  • VIVA.co.id/instagram @anggitpurwoto

VIVA.co.id – Sebuah foto menampilkan sejumlah siswa sekolah dasar lengkap dengan seragam merah putih tengah menjinjing kantong kresek berisi buku, benar-benar membuat terenyuh.

Tanpa sepatu, dengan baju seragam putih yang kusam, mereka berfoto berbaris di depan kelas. Salah seorang di antaranya bahkan mengenakan celana merah yang sudah robek.

Celana itu diikat dengan tali, biar tak melorot. Supaya tak kelihatan, ia menambahkan celana pendek lain warna biru di balik celana merahnya.

Wajah-wajah polos itu berbaris rapi. Meski dengan betis kaki yang menampilkan sisa kerak tanah kering, semuanya tak peduli.

FOTO: Potret salah seorang siswa SDN 04 Sungkung Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat

Seluruh bocah ini adalah siswa dari Sekolah Dasar Negeri 04 Sungkung di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Foto-foto mengiris hati ini diunggah oleh Anggit Purwoto, seorang guru yang mengikuti Program Sarjana Mendidik Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T).

Ia merupakan salah seorang guru dari 3.000 sarjana lulusan tahun 2016 yang disebar di 56 kabupaten se-Indonesia.

"Mereka layak meraih cita-cita yang selama ini membuat mereka bertahan ke sekolah dalam kondisi seragam lusuh dan memakai tas kresek bekas!!!" tulis Anggit dalam foto yang disertakannya di laman Instagram dikutip VIVA.co.id, Kamis, 6 April 2017.

FOTO: Potret siswa SDN 04 Sungkung Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat

Dari unggahannya, Anggit mengaku dari Desa Sungkung tempatnya mengabdi, membutuhkan waktu perjalanan selama dua hari dari Kabupaten Bengkayang. Akses jalan aspal terdekat hanya ada di Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau.

Itu pun harus ditempuh dengan delapan jam menggunakan sampan menyusuri Sungai Sengkayam, lalu dilanjutkan dengan perjalanan darat selama empat jam.

"..Jika basah tidak bisa di prediksi.. Minimal butuh biaya 600 ribu dr kota kabupaten sendiri yaitu kabupaten Bengkayang untuk sampai di desa sungkung..." tulis Anggit.

FOTO: Kondisi jalan menuju Desa Sungkung di Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat

Di seluruh unggahan Anggit, ia selalu menyertakan catatan kaki tentang siapa yang difotonya. Setiap tulisan yang dibuatnya betul-betul mengiris dan beberapa membakar emosi. Sehingga muncul di benak kita, “apa yang salah dengan negeri ini?”

Apa yang ditemui Anggit, jelas fakta tak terbantahkan sisi gelap pendidikan Indonesia. "Kau yg berangkat menimba ilmu dgn tas mahal, sepatu bagus, baju selalu baru.. Masih mengeluh!
Lihat mereka disini... Hanya kantong kresek bekas, baju lusuh, bahkan tak bersepatu.. Apa mereka berhenti menuntut ilmu ketika keinginan mereka untuk memiliki tas, seragam yg layak tidak terpenuhi? Tidak!"

Kini, Anggit tengah berjuang untuk mengumpulkan bantuan berupa seragam sekolah, tas dan buku untuk anak-anak itu. Lewat jejaring sosial Instagram itu juga, Anggit mengunggah sebuah tulisan bahwa dirinya kini tengah menjemput bantuan yang dikirimkan oleh para donatur.

Sebelumnya, Anggit memang menuliskan sebuah catatan kaki di foto tersebut perihal salah satu keinginan anak-anak didiknya di Sungkung tersebut. Keinginan itu sederhana, yakni sebuah tas. “Pak Jokowi minta tas,” tulis Anggit.

Unggahan Anggit itu pun menuai simpatik netizen. Karena itu banyak yang berkeinginan untuk menyumbangkan bantuan kepada anak-anak tersebut. Namun demikian, karena terbatasnya akses jalan, sehingga barang-barang itu harus dijemput dalam waktu yang cukup memakan waktu.

"Tunggulah nak... Semoga keinginanmu untuk memiliki tas, baju layak, sepatu maupun pensil segera terwujud.."

FOTO: Anggit Purwoto dan siswa-siswinya di SDN 04 Sungkung Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat

Karena itu, untuk pembaca VIVA.co.id yang berminat untuk mendonasikan bantuan, bisa kunjungi langsung akun Instagram milik Anggit di @anggitpurwoto. Perjuangan Anggit layak diapresiasi, potret hitam pendidikan Indonesia ini menjadi aib dan harus diperbaiki.

Seperti yang ditulis oleh Anggit dalam sebuah unggahannya, "Tersenyumlah nak... Jangan tampakan wajah sedihmu... Jangan tampakan beban beratmu.. Saya yakin... Walaupun tanpa tas... Tanpa seragam yg layak, tanpa sepatu.....Selagi km masih punya tekad dan semangat! Kamu bisa meraih impianmu itu..kamu pasti bisa melewatinya! Maaf nak...bukan bapak bermaksud menampakan wajah sedihmu, seragam lusuhmu, tas kresekmu.....Bapak hny ingin mereka tau.... Bahwa keadilan sosial BUKAN bagi seluruh rakyat Indonesia..."

(ase)