Ada Alquran Berlapis Emas Berusia 2,5 Abad di Palembang

Kemas Haji Andi Syarifuddin, Imam Masjid Agung Palembang, pewaris ketujuh Alquran berlapis emas berusia 250 tahun warisan Kesultanan Palembang saat ditemui pada Selasa, 13 Juni 2017.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Aji YK Putra

VIVA.co.id - Sebuah mushaf Alquran berusia sekira dua setengah abad masih terawat baik di Palembang, Sumatera Selatan. Alquran peninggalan seorang penghulu di masa Kesultanan Palembang itu kini dipelihara Kemas Haji Andi Syarifuddin sebagai pewaris ketujuh.

Alquran itu dianggap istimewa karena bukan dicetak, melainkan ditulis tangan dengan tinta khusus, yakni tinta emas. Kertasnya pun didatangkan langsung dari Eropa.

Memang tak semua halaman yang ditulis tangan dengan tinta emas, melainkan hanya tiga bagian: halaman sampul depan, halaman tengah pada Surat Al-Kahfi, dan halaman terakhir pada Surat An-Nas.

Semua lapisan emas pada Alquran itu, kata Andi, sudah diuji keasliannya. Tingkat kemurnian emasnya bahkan sudah dikonfirmasi 18 karat. "Sudah dites, lapisan emas di sampul, depan, tengah dan dalam senilai delapan belas karat," katanya ketika ditemui pada Selasa, 13 Juni 2017.

Halaman Alquran berlapis emas berusia 250 tahun warisan Kesultanan Palembang. (VIVA.co.id/Aji YK Putra)

Andi sebenarnya diwarisi sepuluh mushaf Alquran dari leluhurnya yang dahulu menjadi penghulu Kesultanan Palembang. Semua ditulis tangan--tak ada yang dicetak dengan mesin. Dua di antaranya berlapis emas dan delapan yang lain ditulis dengan tinta biasa.

Pria berusia 46 tahun itu sudah beberapa kali diundang untuk menghadiri pameran Alquran berlapis emas itu, di antaranya, di Bima, Nusa Tenggara Barat; Makassar, Sulawesi Selatan; dan Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Keberadaan Alquran itu kian dikenal masyarakat, tak hanya di dalam negeri tetapi juga mancanegara. Suatu hari ada seorang Malaysia hendak membeli Alquran itu pada satu kesempatan pameran. Dia bahkan berani menawar tinggi ditambah bonus memberangkatkan pergi haji untuk Andi ke Tanah Suci.

Namun Andi menolak semua tawaran itu dan bertekad mempertahankan Alquran warisan leluhurnya. "Alhamdulilah, saya masih tetap jaga sampai sekarang," kata Imam Masjid Agung Palembang itu.