Sepeda Ontel, Cara Kota Tua Bikin Pengunjung Bernostalgia

Kota Tua, Jakarta.
Sumber :
  • VIVA.co.id/ Eduward Ambarita.

VIVA.co.id - Bila berkunjung ke Kawasan Kota Tua, Jakarta, masyarakat pasti sudah tidak asing dengan lalu lalang sepeda ontel dengan beragam warna. Memasuki musim lebaran, kini penyedia jasa sepeda ontel justru meraup untung lebih.

Seperti yang diceritakan Asep Saputra (30 tahun). Ia menawarkan tiga sepeda jadul alias jaman dulu miliknya kepada para pengunjung yang datang.

Bila sehari-hari dia hanya mendapatkan uang sekitar Rp200.000, kini di musim libur lebaran penghasilannya melonjak tajam hingga 100 persen lebih.

"Sekarang bisa Rp700.000 sampai Rp900.000-an lah," kata Asep saat berbincang dengan Viva.co.id di kawasan Kota Tua, Kamis, 29 Juni 2017.

Asep mengatakan, di kawasan Kota Tua ada 38 orang yang jadi penyedia jasa peminjaman sepeda ontel. Mereka hampir seluruhnya tergabung dalam Komunitas Ontel Wisata Kota Tua. Kepemilikan pun dibatasi. Setiap anggota sama seperti dirinya hanya boleh memiliki tiga sepeda ontel untuk disewakan.

"Per setengah jam harga sewa Rp20 ribu saja," kata dia.

Penyewaan sepeda ontel ini ternyata tidak hanya berkeliling di kawasan Kota Tua atau sekitar Taman Museum Fatahillah. Pengunjung bisa memilih paket berkeliling Kota Tua hingga Museum Bahari atau Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara.

Pengunjung hanya dikenakan biaya Rp70.000 dengan ditemani satu orang pemandu untuk menikmati bangunan bersejarah. Rutenya melalui Toko Merah, Menara Syahbandar, Museum Bahari hingga Pelabuhan Sunda Kelapa.

"Pokoknya maksimal dua jam. Bisa difotoin, bisa diceritakan sejarah secara singkat oleh pemandu. Karena Kota Tua luas kan sampai Pasar Ikan. Semua kita lewati yang ada gedung bersejarah," kata dia.

Sementara itu, salah satu pengunjung, Budi Suhardi (54 tahun) menceritakan pengalamamnya naik ontel di Kawasan Kota Tua. Ia ingin mengulang kenangannya sewaktu muda di Kota Malang, Jawa Timur, yakni bersepeda menggunakan ontel. Saat ditemui di lokasi, Budi turut membonceng istrinya bersepeda keliling Kota Tua.

"Isitilahnya saya ke sini mengisi kekosongan karena enggak mudik. Murah meriah lagi," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Novriadi S Husodo membenarkan bahwa pengunjung lebih banyak menikmati kawasan Kota Tua dibanding memasuki Museum. Data terakhir Rabu 28 Juni 2017, dari sekitar 112 ribu pengunjung yang datang, hanya 30 persen yang masuk museum.

"Mereka datang foto-foto, selfie, masukan ke Facebook, Twitter, Instagram dan lainnya naik ontel," kata Novriadi. (one)