Satu Biro Umrah Sudah Lama Tahu Tanda Tak Beres First Travel

Ilustrasi tim penyidik Bareskrim Mabes Polri menggeledah kantor biro First Travel.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

VIVA.co.id - Salah satu perusahaan jasa perjalanan umrah yang berbasis di Yogyakarta dan Jawa Tengah telah lama menengarai gejala tak beres perusahaan First Travel. Tanda-tanda utamanya ialah betapa susah mengurus keberangkatan jemaah.

Agen perjalanan yang dikelola Nita itu buru-buru memutuskan kontrak dengan First Travel, setelah semua jemaahnya berangkat umrah, karena tak mau menanggung risiko.

"Saya sudah tahu gejala ndak beres di First Travel, maka istri saya (Nita) memutuskan tak melanjutkan kontrak pada bulan Februari 2017," kata Takdir Ali Mukti, suami Nita, kepada VIVA.co.id pada Senin, 21 Agustus 2017.

Mantan politikus PAN itu pun menceritakan betapa sulit berkomunikasi dengan manajemen kantor pusat First Travel di Jakarta untuk mengurus jemaahnya.

Selain itu, biaya umrah pun langsung dibayarkan dari tiap-tiap jemaah ke rekening perusahaan First Travel. Tapi jemaah menuntut kepada agen karena mereka berurusan dengan agen, bukan dengan manajemen kantor pusat. Maka wajar jika calon jemaah menuntut ke agen di daerah.

Di Yogyakarta, kata Takdir, ada tujuh agen First Travel dan yang terbesar berada di wilayah Kota Gedhe. Sampai kini masih banyak menanggung calon jemaah umrah yang belum diberangkatkan padahal biaya sudah dilunasi. "Saya tidak tahu jumlah pastinya, namun saya kira sangat banyak," ujarnya.

Dosen Hubungan Internasional pada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu mengatakan, sebenarnya yang ditawarkan First Travel dengan ibadah umrah di bawah Rp13 juta terlalu murah dan tidak masuk akal. Namun dengan harga Rp16 juta hingga di bawah Rp19 juta masih rasional.

"Saya itu orang yang suka pergi ke luar negeri, jadi tahu hitungannya. Kalau ada biro perjalanan yang nawarin Rp23 juta untuk biaya umrah itu mahal sekali," kata Takdir.