Setahun 318 Kasus Difteri di Jatim, 12 Anak Meninggal Dunia

Kepala Dinkes Jatim, Kohar Hari Santoso, dan peta sebaran difteri di Jatim
Sumber :
  • VIVA/Nur Faishal

VIVA – Ada 318 kasus difteri terjadi di Jawa Timur, selama Januari sampai November 2017. Dua belas orang kategori di bawah umur meninggal dunia, akibat serangan virus corynebacterium diphtheriae itu. Jumlah kasus tertinggi di Jatim terjadi di Kabupaten Pasuruan, yakni 46 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, Kohar Hari Santoso, menjelaskan angka itu tidak jauh berbeda dari kasus difteri pada 2016, yakni 352 kasus dengan korban meninggal dunia sebanyak tujuh orang. 

"Kami belum bisa memutuskan kategori KLB (kejadian luar biasa)" katanya kepada wartawan di Surabaya, Jawa Timur, Rabu 6 Desember 2017.

Kohar menjelaskan, difteri adalah infeksi bakteri yang berdampak serius pada selaput lendir hidung dan tenggorokan, yang mengganggu pernapasan. Bila parah bisa menyerang jantung. Virus ini menular melalui udara, di antaranya lewat batuk. "Bisa menyebabkan sesak napas," ujarnya.

Menurut Kohar, Dinas Kesehatan Jatim sudah berupaya mencegah dini dengan menggalakkan imunisasi, antidifteri serum atau ADS juga didistribusikan secara masif. Penyuluhan tentang waspada difteri juga dimaksimalkan. Tapi masalahnya, masih ada ketidaksadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi.

Pencegahan dini melalui imunisasi, menurut Kohar, bisa diperoleh melalui lembaga kesehatan semacam Posyandu di seluruh kecamatan di Jatim. Begitu pula dengan ADS. "Kami juga memfasilitasi pemeriksaan spesimen untuk menetapkan diagnosa ke laboratorium rujukan nasional di Surabaya," katanya.