Megawati Ungkit Jasa PDIP ke Jokowi, Relawan Singgung Kekalahan dari SBY di Pilpres

Presiden Jokowi (kiri) bersama Megawati (tengah) saat kongres PDIP di Bali
Sumber :
  • ANTARA FOTO

VIVA Politik - Pernyataan Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri yang menyinggung Presiden Jokowi saat HUT ke-50 PDIP jadi perhatian. Megawati menyebut Jokowi kalau tanpa PDIP ya kasihan.

Menanggapi itu, relawan Jokowi yang juga Ketua Umum Barikade 98, Benny Rhamdani menilai Megawati dalam pidatonya menyampaikan pandangan yang multi perspektif, multidimensi. 

Namun, menurutnya angle omongan Megawati soal pencalonan Jokowi di Pilpres kemudian melahirkan multitafsir berbagai pihak. Kata dia, ada pihak yang menangkap pernyataan Megawati itu seolah-olah tak elok, tak pantas karena dianggap melecehkan Jokowi. Hal itu karena seolah-olah keterpilihan Jokowi hanya ditentukan PDIP.

"Nah, saya justru ingin memposisikan secara fair. Bahwa itu pertama acara internal dan tergantung orang menggunakan sudut pandang apa dalam analisis tersebut,” kata Benny dalam Kabar Petang tvOne yang dikutip VIVA pada Senin, 16 Januari 2023.

Baca Juga: Megawati Bilang Jokowi Tanpa PDIP Kasihan, Pakar: Agar Patuh dan Tak Bermanuver

Dia berpendapat pernyataan Megawati disampaikan saat acara internal PDIP. Ia menilai cara Megawati mungkin gaya komunikasinya yang kadang serius, keras, mungkin diselingi guyon. Bagi Benny, Megawati punya style dalam menyampaikan komunikasinya.

"Saya  justru tidak melihat apa yang disampaikan Ibu Mega sebagai negarawan. Seorang tokoh besar, pemimpin partai besar. Kemudian ini adalah sebuah pandangan yang sengaja untuk merendahkan martabat seorang Presiden, kemudian merendahkan Pak Jokowi," jelas politikus Hanura tersebut.

Namun, ia mengatakan jika memang maksud Megawati bertujuan untuk merendahkan Jokowi maka tentu tidak elok dan tidak pantas. Tapi, ia secara pribadi tak melihat maksud penghinaan atau pelecehan kepada Jokowi.

Benny pun menyinggung sejarah politik saat PDIP mencalonkan Megawati sebagai capres. Pencalonan itu dilakukan di Pilpres 2004 dan 2009.

Di Pilpres 2004, Megawati berpasangan dengan Hasyim Muzadi. Tapi, saat itu kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla.

Begitu juga saat Pilpres 2009, Megawati kembali maju diusung PDIP yang berpasangan dengan Prabowo Subianto. Namun, Megawati kembali kalah dari SBY yang ketika itu berduet dengan Boediono.

"PDIP pernah mencalonkan ibu Mega, saat itu Pilpres 2004 dikenal dengan Mega-Hasyim. Kemudian, 2009 dengan kita kenal Mega Prabowo. Ternyata ibu Mega tak terpilih dalam kontestasi 2004 dan 2009," tutur Benny.

Namun, sebaliknya saat PDIP mengusung Jokowi yang notabene bukan elite parpol sebagai capres justru menang hingga dua periode.

"Justru besar calon presiden Indonesia di luar kader partai dan bukan ketua umum saat PDIP mencalonkan Jokowi dua periode justru Pak Jokowi terpilih sebagai Presiden," lanjut Benny.

Presiden Jokowi dan Megawati Sukarnoputri di acara HUT PDIP ke-50.

Photo :
  • YouTube PDIP

Menurut dia, hal itu mesti dinilai secara fair. Dia tak menampik ada faktor partai secara legal formal. Sebab,  konstitusi mensyaratkan mencalonkan Presiden itu harus di usung oleh parpol. Maka itu, peran PDIP besar dalam pencalonan dan keterpilihan Presiden Jokowi. 

Meski demikian, ia menilai mesti secara fair karena ada faktor lain dari Jokowi. Ia menyebut eks Gubernur DKI itu punya background dan rekam jejak sebagai orang baik, pemimpin yang dikenal merakyat. 

"Dan, memiliki komunikasi tanpa batas dengan publik, komunikasi yang dibangun cukup membumi ya, tidak seperti pemimpin-pemimpin lainnya yang melangit," jelas Benny.

Bagi dia, justru faktor itu yang membuat keterpilihan Jokowi yang diusung PDIP berperan penting. Dengan demikian, ia coba meletakkan secara fair terkait perdebatan dan diskursus dari pernyataan Megawati.

"Terkait Ibu Mega karena ini tentu ini pertama acara internal. dan saya yakin ketokohan Mba Mega sebagai pemimpin besar partai politik itu tak ada niat, itu hanya guyon tapi tidak diniatkan untuk melecehkan Pak Jokowi," tuturnya.