Bantah Pecah Jelang Silatnas, Relawan Jokowi Solid

Relawan Jokowi
Sumber :
  • ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

VIVA.co.id – Ketua Panitia Silatnas II Relawan Pendukung Setia Jokowi, Mohammad Yamin, membantah klaim 31 kelompok relawan Jokowi akan memboikot acara Silatnas yang digelar di JI-Expo Kemayoran Jakarta Pusat, malam nanti, Jumat, 11 Agustus 2017.

Menurut Yamin, Silatnas II ini merupakan acara sukarela yang digagas relawan setia Jokowi, untuk meneguhkan dukungan mereka terhadap Jokowi melanjutkan kepemimpinannya di periode kedua (2019-2024).

"Silakan yang ikut, yang tidak ikut juga enggak apa-apa. Silakan saja enggak apa-apa, tidak ada perpecahan," kata M Yamin kepada VIVA.co.id, Jumat, 11 Agustus 2017.

Yamin memang mengakui ada beberapa kelompok relawan Jokowi yang tidak bisa hadir pada acara malam nanti, dengan berbagai alasan. Namun, jumlahnya tidak sampai 31 kelompok seperti yang disebutkan Ketua Umum Pro Jokowi (Projo), Budi Arie.

"Banyak beberapa itu diklaim, ada juga yang ikut seperti GRI (Gerakan Rakyat Indonesia). Tidak benar juga 31 itu semua relawan, ada beberapa yang kami tidak kenal," ujar Ketua Umum Seknas Jokowi ini.

Dari daftar konfirmasi kehadiran, Yamin mengklaim, setidaknya 10 ribu orang relawan Jokowi dari seluruh Indonesia akan memadati JI-Expo Kemayoran Jakarta Pusat, malam nanti. "Ini dihadiri banyak perwakilan dari daerah, hampir seluruh daerah ada, mereka secara sukarela datang," kata Yamin.

Kendati ada klaim soal ketidakhadiran 31 simpul relawan, Yamin memastikan tidak ada perpecahan di kubu relawan Jokowi. Sebab, acara ini digagas secara sukarela dan semua simpul relawan diundang untuk menghadiri Silatnas II yang rencananya dihadiri Presiden Joko Widodo.

"Saya enggak anggap ini masalah, ini bukan perpecahan. Kalau ada yang enggak ikut itu biasa saja. Saya bilang tidak semua relawan ikut, benar. Tapi yang ikut juga banyak," tuturnya.

Sementara itu, terkait tuduhan yang beredar di media sosial soal acara Silatnas II ini turut mengundang ‘pengusaha hitam’, dibantah keras Yamin.

Ia menilai tuduhan itu tak beralasan, karena sejatinya undangan itu ditujukan kepada Ferry Siahaan, salah seorang relawan yang kebetulan bekerja di PT CEM.

"Waktu diundang dia (Ferry) tulis saja nama perusahaannya. Nah, PT CEM sekarang dituduh (pengusaha hitam). Kalau mereka bisa tunjukkan CEM perusahaan hitam, tunjukkan? Kalau tidak, bisa dilaporkan nanti sama PT CEM atas tuduhan pencemaran nama baik dan UU ITE," paparnya.