IMF Pangkas Pertumbuhan Global, Ekonomi RI Kuat dan Mampu Bertahan

Ekonom Senior PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, Anton Hendrata.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Fikri Halim

VIVA – International Monetary Fund atau IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dalam laporan World Economic Outlook April 2019. IMF memproyeksikan ekonomi dunia akan tumbuh sebesar 3,3 persen atau turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,5 persen. 

Lantas, bagaimana dampaknya ke ekonomi Indonesia? 

Ekonom senior PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, Anton Hendrata menilai, sebetulnya perekonomian Indonesia tidak terlalu terpengaruh dengan ekonomi global atau perdagangan internasional. 

"Yang men-drive perekonomian Indonesia kan sebagian besar permintaan domestik. Mungkin pengaruhnya ada tapi tidak sebesar negara-negara yang terekspose dengan international trade," kata Anton ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu 10 April 2019. 

Menurut dia, bukan sesuatu yang sulit bagi Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi sama dengan 2018 di angka 5,17 persen. "Meskipun globalnya turun. Untuk bertahan di 5,17 (persen) di tahun lalu, masih mungkin, sangat mungkin," kata dia. 

Akan tetapi, untuk mencapai angka lebih tinggi semisal di angka 5,5 persen atau pun 5,7 persen, Anton mengaku masih cukup sulit. "Kita perlu reformasi struktural dulu," tutur dia. 

Ia menambahkan, meskipun IMF merevisi pertumbuhan ekonomi negara maju seperti AS maupun Uni Eropa, ekonomi Indonesia masih terbantu dengan momen pemilu. Selain itu, inflasi hingga konsumsi Indonesia masih cukup terjaga. 

"Saya kira kita masih bisa cukup kuat di konsumsi rumah tangganya. Jadi kalau kita mau tumbuh sedikit lebih baik dibandingkan 2018 masih ada ruang untuk itu," ujar dia. 

Apalagi, lanjut dia, inflasi Indonesia pada kuartal I-2019 masih relatif bagus dibanding periode yang sama tahun lalu dan pemerintah pun tetap menjaga daya beli masyarakat serta rupiah masih cenderung stabil. 

Selain itu, jika Indonesia bisa mempertahankan ekonomi seperti saat ini, investasi asing pun bakal melirik Indonesia. 

"Berarti kan orang akan tertarik, investor akan melihat growth diferensialnya dibandingkan negara lain. Kalau growth diferensial kita lebih bagus ya orang pilih Indonesia," tutur dia.