ADB Ramal Ekonomi Asia dan Pasifik Tumbuh 4,8 Persen pada 2023, Meskipun Industri dan Ekspor Melemah

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi/Realisasi Investasi.
Sumber :
  • VIVA/M Ali Wafa

Jakarta – Asian Development Bank (ADB) dalam laporannya mempertahankan prospek pertumbuhan ekonomi berkembang di Asia dan Pasifik sebesar 4,8 persen pada 2023. Hal itu karena permintaan domestik yang kuat terus mendukung pemulihan kawasan.

Meski demikian, Kepala Ekonom ADB, Albert Park mengatakan, untuk aktivitas industri dan ekspor diperkirakan tetap lemah. Serta prospek pertumbuhan dan permintaan global tahun depan semakin memburuk.

“Asia dan Pasifik terus pulih dari pandemi dengan kecepatan tetap. Permintaan domestik dan aktivitas jasa mendorong pertumbuhan, sementara banyak ekonomi juga mendapat manfaat dari pemulihan yang kuat di bidang pariwisata," kata Albert dalam keterangannya dikutip Kamis, 20 Juli 2023. 

Ilustrasi ekspor impor.

Photo :
  • VIVA.co.id/M Ali Wafa

Albert mengatakan, untuk inflasi diperkirakan akan terus menurun, mendekati tingkat pra-pandemi. Itu seiring dengan penurunan harga bahan bakar dan pangan, menurut Asian Development Outlook (ADO) Juli 2023. Dalam hal ini, Inflasi di negara berkembang Asia diperkirakan sebesar 3,6 persen tahun ini, dibandingkan dengan perkiraan April sebesar 4,2 persen.

Sementara itu, prospek inflasi untuk tahun 2024 dinaikkan menjadi 3,4 persen dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,3 persen. 

Menurutnya, pembukaan kembali Republik Rakyat Tiongkok (RRC) mendukung pertumbuhan kawasan ini. Perekonomian RRT diproyeksikan meningkat 5,0  persen tahun ini. 

Di sisi lain, akan terjadi perlambatan permintaan untuk ekspor elektronik dan barang manufaktur dari kawasan Asia yang sedang berkembang. Hal itu karena pengetatan moneter menyeret aktivitas ekonomi di negara-negara maju utama.

ADB memperkiraan pertumbuhan wilayah untuk tahun depan sedikit direvisi turun menjadi 4,7 persen dari perkiraan 4,8 persen pada April.

Adapun, untuk pertumbuhan sebagian besar subkawasan di Asia dan Pasifik. Pengecualian termasuk Asia Tenggara, diperkirakan turun menjadi 4,6 persen tahun ini dan 4,9 persen tahun depan. Angka itu turun dibandingkan dengan perkiraan April masing-masing 4,7 persen dan 5,0 persen. 

Sedangkan untuk Kaukasus dan Asia Tengah direvisi turun sedikit menjadi 4,3 persen dari 4,4 persen untuk tahun 2023. Dan menjadi 4,4 persen dari 4,6 persen pada tahun 2024. .