Penerima Bansos Naik, Faisal Basri Sebut Jokowi Gagal Sejahterakan Rakyat

Ekonom Senior Indef, Faisal Basri
Sumber :
  • VIVA.co.id/Mohammad Yudha Prasetya

Jakarta – Ekonom Senior Indef, Faisal Basri menegaskan, ketiga capres cenderung main aman dalam Debat Kelima Pilpres, yang digelar pada Minggu, 4 Februari 2024 kemarin. Sehingga hal itu hanya menghasilkan anti-klimaks, karena masing-masing capres enggan mengungkapkan kegagalan Jokowi dalam dua periode pemerintahannya.

Hal itu misalnya dapat dilihat dari perdebatan soal bantuan sosial (bansos), yang jumlah penerimanya terus merangkak naik di era pemerintahan Jokowi.

"Dikaitkan dengan bansos, bansos itu meningkat dari era SBY ke Jokowi. Meningkat dibandingkan dengan masa COVID-19. Namanya bantuan sosial, artinya makin banyak orang yang bebannya berat," kata Faisal dalam telekonferensi 'Tanggapan Atas Debat Kelima Pilpres', Senin, 5 Februari 2024.

Dia pun menilai bahwa dari hal sederhana seperti bansos saja, dapat dilihat bahwa pemerintahan Jokowi gagal melaksanakan amanat Undang-undang untuk menyejahterakan rakyat Indonesia.

"Jadi Jokowi ternyata gagal menyejahterakan rakyat indonesia. Buktinya, makin banyak orang yang menerima bansos. Yang nganggur, yang di PHK, yang gagal panen, yang pupuknya kurang, dan sebagainya. Gagal Jokowi," ujarnya.

Zulkifli Hasan dampingi Jokowi salurkan bansos beras di Jakarta Utara

Photo :
  • Istimewa

Dari terus bertambahnya jumlah penerima bansos itu, Faisal berpendapat bahwa pemerintah Jokowi gagal menurunkan jumlah orang yang hidupnya rentan secara ekonomi.

"Tapi tidak ada (capres) yang berani ngomong itu (di debat kelima). Padahal masalah ini digembar-gamborkan oleh (paslon) nomor 1 dan nomor 3. Tapi tidak keluar, karena takut konsekwensi bahwa penyerang Jokowi tidak populer, dan di medsosnya akan jadi negatif," kata Faisal.

Selain bansos, Faisal pun membeberkan kembali kegagalan pemerintahan Jokowi dalam sektor kesehatan. Berdasarkan data World Population Review, angka harapan hidup di Indonesia berada di posisi ke-10 dari 11 negara di ASEAN, dan hanya lebih tinggi dari Myanmar.

"Pada tahu itu Ganjar dan Anies bahwa angka harapan hidup turun, tapi tidak disebut. Jadi kita sudah 76,6 tahun (merdeka), tapi masih lebih tinggi Timor Leste (angka harapan hidupnya). Makanya kalau mau panjang umur buru-buru pindah ke Timor Leste. Tapi soal itu tidak disebut, padahal saya yakin timnya tahu," ujarnya.