Makan Korban Suporter Timnas, Ini Bahaya Rocket Flare

Ilustrasi suporter bakar flare saat pertandingan.
Sumber :
  • VIVA.co.id/M Ali Wafa

VIVA.co.id – Kabar duka menyelimuti sepakbola nasional. Seorang suporter Timnas Indonesia tewas terkena rocket flare saat menyaksikan laga Timnas melawan Timnas Fiji, akhir pekan lalu.

Catur Yuliantoro meninggal dunia tertembak roket flare yang dilepaskan penonton lain di Stadion Patriot Chandrabaga, Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu lalu, 2 September 2017.

Dari hasil olah TKP, Polres Metro Bekasi Kota menemukan sejumlah barang bukti. Yaitu selongsong dan pengaman rocket flare di tribun selatan. 

Dikutip dari situs salah satu produsen rocket flare, Hansson Pyrotech, Senin 4 September 2017, terungkap jika rocket flare adalah alat yang sangat berbahaya. 

Mengacu pada kandungan isi roket flare (Pottasium nitrate, Sulphur, dll), alat ini bisa menyebabkan luka bakar yang sangat parah jika terkena kulit langsung.

Rocket flare sebenarnya ditujukan sebagai alat pertolongan. Seperti ketika berada di tengah laut. Dengan cara menembakkan ke atas. Karena alat ini menciptakan cahaya terang dan panas yang hebat.

Tak heran jika rocket flare menjadi salah satu alat yang dijual bebas. Dari penelusuran VIVA.co.id, beberapa toko online bebas menjual alat ini dengan harga kisaran Rp150 ribu.

Namun, jika disalahgunakan, rocket flare bisa menjadi alat mematikan. Seperti yang terjadi pada Sabtu lalu saat rocket flare mengarah langsung seseorang. 

Penggunaan flare jenis apa pun sebenarnya sudah dilarang digunakan di dalam stadion. Penjagaan ketat pun sudah dilakukan. Namun masih saja flare lolos masuk stadion.

Kapolres Metro Bekasi Kota, Kombes Hero Bachtiar menduga, lolosnya rocket flare ke dalam stadion melalui pagar stadion. Lewat kerja sama sejumlah oknum suporter.

"Kemungkinan temannya yang di luar menyelinapkan suar lewat pagar. Dan temannya yang sudah ada di dalam stadion langsung mengambilnya," ujarnya. 

"Kejadian yang dialami korban Catur ini akan menjadi bahan evaluasi kami untuk mengubah pola keamanan," lanjutnya.