Kisah Inspiratif Pesepakbola Cantik Berhijab Afghanistan

Khalida Popal, pesepakbola wanita asal Afghanistan
Sumber :
  • newsdeeply.com

VIVA.co.id – Berita mengharukan dan menginspirasi datang dari negara Afghanistan. Salah satu pesepakbola wanita mereka, Khalida Popal, menegaskan kembali ke dunia sepakbola.

Popal, kembali ke negaranya setelah lima tahun meninggalkan Afghanistan. Popal bersama saudaranya laki-lakinya, memutuskan meninggalkan Afghanistan, karena ancaman pembunuhan akibat situasi keamanan negara yang kurang kondusif.

Bahkan, Popal mengatakan, dia tidak sempat berpamitan dengan keluarga dan teman-temannya, saat angkat kaki dari negaranya tersebut. Namun, ia masih punya misi yang harus dijalankan.

Kembalinya Popal ke sepakbola Afghanistan, memiliki tujuan mulia. Dia ingin melanjutkan perjuangan dan mempertahankan hak-hak perempuan Afghanistan, yang menurutnya masih membaik, bahkan sejak Taliban digulingkan dari kekuasaan.

"Saya kembali dan pasti, akan melanjutkan apa yang sudah saya lakukan sebelumnya. Saya harus lebih banyak berbuat sesuatu untuk negara saya, untuk para wanita," kata Popal kepada AS.

"Ketika apa yang saya lakukan bisa bermanfaat dan suara saya lebih kuat, saya merasa sangat berisiko. Ada waktu, ketika saya harus meninggalkan negara saya. Saya, bahkan tidak bisa menjelaskan hal ini kepada keluarga saya. Saya tidak bisa mengatakan selamat tinggal kepada rekan tim saya dan orangtua dan menjelaskan mengapa saya harus pergi. Itu adalah keputusan yang benar-benar sulit tetapi itu penting untuk menyelamatkan perjuangan saya karena suara saya membantu perempuan berdiri untuk hak-hak mereka," ujarnya.

Melihat situasi negaranya, Popal merasa tergerak untuk menyelamatkan orang-orang di sekitar. Karena, dia merasa negara adalah warisan yang harus dijaga dari orang-orang yang ingin menghancurkan.

"Seperti semua orang tahu, Afghanistan telah melalui perang selama beberapa dekade itu telah memberi kita sebuah 'hadiah' besar berupa budaya perang, di mana perempuan selalu tertindas. Di bawah kekuasaan Taliban, kami hampir kehilangan generasi perempuan," ucap Popal. (asp)