Peneliti UGM Jadi Orang Indonesia Pertama Teliti Antartika

Ilustrasi Penguin di Antartika
Sumber :
  • Twitter/@UGMYogyakarta/Nugroho Imam Setiawan

VIVA.co.id – Nugroho Imam Setiawan yang merupakan anggota Tim Ekspedisi UGM bergabung dalam Japan Antartic Research Expedition 58 (JARE58). Perjalanan ekspedisi Imam ke Antartika dimulai dari 11 November 2016 dan berakhir 22 Maret 2017.

Imam mengklaim menjadi orang Indonesia pertama yang berada di Antartika. Namun untuk ukuran Asia Tenggara, dia dan satu orang koleganya dari Thailand diklaim sebagai yang pertama pernah ke Antartika.

"Saya adalah orang Indonesia pertama yang menginjakkan kaki di Antartika. Untuk Asia Tenggara, saya dan Prayath Nantasin (Thailand) merupakan yang pertama,” jelas Imam di Kampus UGM, Kamis 30 Maret 2017.

Imam menjelaskan, bisa bergabung dengan tim ekspedisi tersebut karena mengikuti seleksi yang sudah dilaksanakan sejak 2015. Seleksi tersebut dipimpin oleh Yoichi Motoyoshi dari National Institute Of Polar Science Japan. Mereka ingin mengadakan penelitian tentang cuaca dan batuan bumi, yang dilakukan mulai 12 Januari sampai 24 Februari 2017.

“Fokus penelitian kami adalah untuk mengetahui metaphor bebatuan di Antartika yang sudah berumur 3,8 miliar tahun. Ini merupakan batuan tertua di bumi yang tidak meleleh dalam kondisi ekstrem,” jelas Imam.

Dalam penelitian itu, secara keseluruhan, tim berhasil membawa pulang 30 ton jenis batuan. Khusus Indonesia yang diwakili Imam, batuan yang dibawa seberat 200 kilogram, yang terdiri dari 200 jenis.

Disinggung mengenai hasil penelitian dan hubungannya dengan Indonesia, Imam menjelaskan, secara khusus pengalaman ini baginya bisa menjadi rujukan dan ilmu bagi mahasiswa Geologi terkait kondisi sejarah pembentukan bumi berdasarkan batuan di Antartika.

"Hasil penelitian ini juga sebagai pembanding untuk melakukan penelitian di Sumatera dan Papua yang dikabarkan memiliki bebatuan yang kondisinya hampir sama di sana," kata Imam.

Sementara itu, Rektor UGM, Dwikorita Karnawati, mengapresiasi suksesnya ekspedisi yang dilakukan Imam. Selain membawa nama baik Indonesia di kancah Internasional, keberhasilan melakukan penelitian ini juga mengharumkan nama UGM sebagai satu-satunya universitas nasional yang mengirimkan wakilnya menginjakkan kaki di sana. 

"Pada awalnya saya ragu apakah penelitian ini akan berhasil, mengingat cuaca sangat ekstrem di sana. Namun setelah mendengar kabar terakhir, semua masih aman dan sekarang kita menunggu batuan yang berhasil dikumpulkan untuk diteliti bersama,” jelas Dwikorita. (one)