Studi: Agama Obat Penyakit Mental seperti Depresi dan Skizofrenia

Ilustrasi kaum beragama.
Sumber :
  • www.pixabay.com/maxlkt

VIVA – Penelitian yang dilakukan oleh Departemen Psikiatri Universitas Columbia dan Institut Psikiatri Negara Bagian New York, keduanya di Amerika Serikat, mengklaim bahwa orang-orang dengan afiliasi keagamaan bisa menjadi obat untuk mengatasi depresi.

Mengutip situs Mashable, Rabu, 13 Februari 2019, penelitian terbaru mereka juga menyebutkan bahwa depresi lebih banyak berhubungan dengan genetika. Hal itu telah diamati pada orang lain yang memiliki anggota keluarga tanpa riwayat depresi.

Menurut para peneliti kegiatan agama sangat berperan sebagai penghilang stres dan membantu orang yang terlibat untuk menahan diri dari praktik yang tidak sehat.

"Yang lebih substansial adalah agama atau spiritualitas bisa memainkan peran kunci dalam kehidupan orang dewasa usia muda (di atas 21 tahun) dengan penyakit mental yang berat," demikian menurut keterangan mereka.

Daftar penyakit mental ini termasuk gangguan bipolar, skizofrenia, dan kasus depresi berat. Tim peneliti dari kedua perguruan tinggi ini menggunakan pencitraan sensor difusi, sejenis neuroimaging berbasis MRI, untuk memetakan materi putih di otak 99 peserta relawan.

Sebagai catatan, semua peserta memiliki berbagai tingkat risiko depresi. Sedangkan, materi putih adalah jaringan pucat yang menciptakan korteks otak. Di dalamnya ada sirkuit kecil yang menghubungkan sel-sel otak satu sama lain untuk mengirim sinyal.

Studi sebelumnya telah mengungkapkan bahwa mereka yang menderita depresi umumnya memiliki materi putih yang lebih tipis. Adapun mereka yang memiliki kepercayaan terhadap agama memiliki materi putih yang lebih tebal.

"Kami menemukan bahwa agama atau spiritualitas sangat penting dikaitkan dengan korteks otak yang lebih tebal di daerah parietal dan oksipital bilateral," jelas para peneliti.

Studi ini juga menunjukkan bahwa orang dewasa usia muda dengan penyakit mental yang parah mampu mengatasi situasi kehidupan yang sulit dan perjuangan kesehatan mental, karena mereka percaya kepada Tuhan sebagai sumber penghiburan dan dukungan.

Namun lagi-lagi, penelitian ini tentu saja tidak lengkap karena tim peneliti masih memerlukan sejumlah penelitian lanjutan yang harus dilaksanakan. (ann)