Mengenal Pegasus, 'Mata dan Telinga' Israel untuk Menyerang WhatsApp

Aplikasi WhatsApp.
Sumber :
  • latestly.com

VIVA – Nama Pegasus disebut-sebut dalam serangan keamanan yang melanda WhatsApp, akhir-akhir ini. Apa itu Pegasus? Pegasus adalah produk andalan NSO, sebuah program yang dapat mengambil alih ponsel dari pengguna yang sah, untuk kemudian mengaktifkan mikrofon dan kamera ponsel, mengumpulkan data lokasi, serta email pengguna. Intinya, semua data pada iPhone maupun Android bisa diekstraksi oleh Pegasus.

NSO sendiri, mengutip dari Wikipedia, memiliki nama resmi NSO Group Technologies, yaitu perusahaan teknologi Israel yang berfokus pada siber intelijen. Perusahaan ini didirikan pada 2010 oleh Niv Carmi, Omri Lavie, dan Shalev Hulio. Dilaporkan mempekerjakan sekitar 500 orang dan berbasis di Herzliya dekat Tel Aviv.

Menurut laporan Irish Times, pada Selasa, 14 Mei 2019, NSO menjual Pegasus ke agen intelijen Timur Tengah dan Barat, dengan penjelasan bahwa Pegasus ditujukan bagi pemerintah untuk memerangi terorisme dan kejahatan. Dengan perangkat lunak ini, maka pemerintah atau penegak hukum di seluruh dunia memungkinkan untuk mengambil kendali penuh atas perangkat yang ditarget.

Agaknya kasus keamanan siber yang melibatkan Pegasus ini bukan pertama kalinya. Dalam laporan Irish Times tersebut, diceritakan bahwa beberapa tahun lalu, para pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) di Timur Tengah pernah menerima pesan teks melalui WhatsApp yang berisi tautan, jika diklik maka otomatis Pegasus akan terunduh ke ponsel mereka.

Ketika ditanya terkait kasus serangan keamanan WhatsApp akhir-akhir ini, NSO mengatakan sedang menyelidiki masalah tersebut. "Dalam situasi apa pun, NSO tidak akan terlibat dalam operasi atau identifikasi target teknologinya, yang semata-mata dioperasikan oleh badan intelijen dan penegak hukum," kata pejabat NSO dikutip dari Irish Times, Rabu, 15 Mei 2019.

Sementara itu, ada sejumlah informasi tambahan dari Fast Company yang menyatakan, tidak diketahui secara pasti berapa jumlah pengguna WhatsApp yang menjadi korban spyware Pegasus tersebut. Namun, disebutkan salah satu target serangan itu adalah seorang pengacara anonim yang terlibat dalam gugatan terhadap NSO, dan seorang pemberontak Arab Saudi.

Terlepas dari itu, secara singkat, serangan pada WhatsApp ini menunjukkan seberapa rentan perangkat kita terhadap injeksi malware. Sehingga bagi WhatsApp, tak perlu menunggu lama untuk segera memberi tahu penggunanya agar memperbarui aplikasi (update), setelah bahaya itu ditemukan. (ann)