Ilmuwan Klaim Pintu ke Dunia Lain Itu Nyata Adanya

Penjelajah waktu
Sumber :
  • www.pixabay.com/xusenru

VIVA – Ilmuwan mengklaim jika pintu ke dunia atau penjelajah waktu (time traveler) itu nyata adanya. Hal ini terungkap dari sebuah penelitian aneh lewat teori matematika yang dilakukan oleh seorang mahasiswa bernama Germain Tobar dan dosennya yang juga guru besar, Fabio Costa – keduanya dari Universitas Queensland, Australia.

Mengutip laman Sputniknews, Senin, 28 September 2020, keduanya mengklaim telah menemukan teori matematika untuk memecahkan paradoks logis utama dari model penjelajah waktu atau pintu ke dunia lain.

Baca: Amerika dan Rusia Kejar-kejaran di Orbit Bumi

Menurut Tobar, perjalanan waktu menembus dunia lain ini fokus pada apa yang disebut kurva waktu tertutup atau close-time like curves (CTC). Ia bersama Costa mengaku jika selama dua bagian dari skenario CTC tersebut masih dalam urutan sebab-akibat saat seseorang keluar. Sedangkan sisanya tunduk pada kebebasan keinginan lokal.

"Hasil yang kami temukan menunjukan bahwa CTC tidak hanya kompatibel dengan determinisme dan pilihan bebas lokal dalam operasional. Namun juga dengan beragam skenario dan proses dinamisnya," ungkap Costa.

Ia lalu mencontohkan hasil temuannya dalam sebuah analogi, bahwa pintu ke dunia lain atau penjelajah waktu yang mencoba mencegah manusia terinfeksi COVID-19.

"Ini paradoks. Inkonsistensi yang sering membuat orang berpikir bahwa perjalanan waktu itu tidak bisa terjadi di alam semesta," jelasnya.

Secara logika, kata Costa, sulit diterima akal sehat karena hal itu akan berdampak pada kebebasan kita melakukan tindakan sewenang-wenang. Dengan begitu, para time traveler bisa melakukan perjalanan waktu atau bolak-balik ke dunia lain dengan bebas.

Namun, Costa melanjutkan, para time traveler ini tidak bisa melakukan apapun yang akan berdampak terhadap paradoks kehidupan. Tobar juga menambahkan, apapun yang dilakukan para penjelajah waktu, peristiwa penting hanya akan melakukan penyesuaian kembali.

"Mereka mencoba untuk membuat paradoks. Kejadiannya akan selalu menyesuaikan diri agar tidak ada kejadian yang tidak konsisten," papar Tobar.