Pantau Sistem di Bandara Pakai Platform Canggih Buatan Jepang

Suasana di Bandara Soetta, Tangerang, Banten.
Sumber :
  • VIVA.co.id/ Sherly (Tangerang)

VIVA – Raksasa teknologi Jepang, NEC Indonesia bersama PT Angkasa Pura II (Persero) sukses mengimplementasikan Airport Infrastructure Control Center (AICC), sebuah sistem monitoring kebandarudaraan di seluruh area vital Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten.

Pengoperasian AICC yang bekerja 24 jam ini menandai babak penting dalam perjalanan transformasi digital bandara yang melayani 65 juta penumpang per tahun di Indonesia tersebut.

Platform AICC mendukung pemantauan operasi secara real-time dan memungkinkan tindakan pencegahan untuk mengurangi risiko dari setiap potensi downtime.

Selain itu, pengelola dapat melakukan pemantauan kondisi lapangan secara online dan real-time untuk aspek-aspek utama bandara, seperti sistem kelistrikan, transportasi dalam gedung, X-ray and walk-through metal detector (WTMD), sistem alarm kebakaran, dan sirkulasi udara di seluruh terminal penumpang di Terminal 1, 2, dan 3.

Pusat kendali juga memantau sistem tenaga dan generator, sistem CCTV, bandwidth data dan jaringan, sistem manajemen air, serta menyediakan cakupan komprehensif yang memastikan operasi bandara tanpa hambatan.

"Teknologi kami memungkinkan perencanaan dan pengambilan langkah-langkah secara efektif untuk operasional Bandara Soetta mendukung industri penerbangan dalam berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia," kata Direktur Utama NEC Indonesia, Joji Yamamoto, Selasa, 10 Agustus 2021.

Ia menambahkan, perjalanan udara saat ini mengalami perubahan dan bandara di seluruh dunia perlu beradaptasi dan mempertahankan tingkat layanan serta efisiensi yang tinggi sambil memprioritaskan keselamatan penumpang dan petugas.

"Penggunaan teknologi digital sesuai AI (artificial intelligence) dan IoT (internet of things) akan menjadi kunci dalam membantu bandara mengoptimalkan operasi mereka, dan NEC berkomitmen untuk mengembangkan solusi dan layanan inovatif untuk mendukung kebutuhan bandara saat ini dan masa depan," ungkap Yamamoto.

Sementara itu, Direktur Utama Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengungkapkan, digitalisasi dalam pengelolaan bandara menjadi kebutuhan mendesak karena operasional bandara tidak lagi dapat dikelola secara tradisional.

Dengan luas lebih dari 2.200 hektare serta 3 terminal penumpang, dukungan digitalisasi di setiap aspek operasional menjadi kunci keberhasilan Bandara Soetta sebagai pintu gerbang utama Indonesia.

"Kami telah mengoperasikan AICC yang merupakan bagian dari transformasi digital yang dijalankan Angkasa Pura II sejak tahun 2016. Platform ini memiliki kemampuan menganalisis kebutuhan dan mendukung regulasi yang dipersyaratkan di sektor kebandarudaraan," jelas Awaluddin.