Peta Alam Semesta Dibikin Berdasarkan Teori Albert Einstein

Alam semesta.
Sumber :
  • Space.com

VIVA Tekno – Para astronom telah membuat peta paling detail dari materi gelap misterius menggunakan cahaya pertama alam semesta dan gambar 'terobosan' yang mungkin akan membuktikan kebenaran Teori Albert Einstein.

Gambar baru ini dibuat menggunakan cahaya berusia 14 miliar tahun dari pergolakan setelah Big Bang, menunjukkan sulur materi yang sangat besar, yang terbentuk tidak lama setelah alam semesta meledak dan terlahir.

Ternyata bentuk sulur-sulur ini sangat mirip dengan yang diprediksi menggunakan Teori Relativitas Umum Albert Einstein, seperti dikutip dari situs Live Science, Jumat, 14 April 2023.

Hasil baru ini bertentangan dengan peta materi gelap sebelumnya yang menyarankan jaring kosmik tidak segumpal yang diperkirakan Teori Albert Einstein.

Para astronom mempresentasikan temuan mereka pada 11 April di konferensi Future Science dengan CMB x LSS di Yukawa Institute for Theoretical Physics Jepang.

"Kami telah membuat peta massa baru menggunakan distorsi cahaya yang tersisa dari Big Bang. Hebatnya, ini memberikan pengukuran yang menunjukkan 'kekotoran' alam semesta, dan tingkat pertumbuhannya setelah 14 miliar tahun evolusi berdasarkan Teori Albert Einstein," jelas Mathew Madhavacheril. 

Para ilmuwan berpendapat bahwa alam semesta yang terbentuk setelah Big Bang dipenuhi dengan partikel materi dan antimateri, yang identik dengan materi mereka.

Albert Einstein

Photo :
  • U-Report

Karena materi dan antimateri memusnahkan satu sama lain ketika bertabrakan, jika keduanya dibuat dalam ukuran yang sama, semua materi alam semesta seharusnya telah musnah.

Namun, jalinan ruang-waktu justru berkembang pesat, bersama dengan beberapa fluktuasi kuantum yang membantu, membuat kantong-kantong plasma purba alam semesta tetap utuh.

Kemudian, menurut aturan yang ditetapkan oleh Teori Relativitas milik Albert Einstein, gravitasi yang memadatkan dan memanaskan kantong plasma ini menghasilkan gelombang suara yang beriak keluar dari gumpalan dengan setengah kecepatan cahaya.

Gelombang raksasa ini mendorong keluar materi yang belum tersedot ke dalam dirinya sendiri, menciptakan jaringan kosmik bayi yakni serangkaian film tipis yang mengelilingi rongga kosmik yang tak terhitung jumlahnya, seperti sarang gelembung sabun di wastafel.

Setelah materi ini mendingin maka kosmik bayi menyatu menjadi bintang-bintang pertama, kemudian menjadi galaksi kaya materi di titik pertemuan untaian jaring yang kusut.

Namun, pada masa lalu, para astronom yang mempelajari jaring kosmik menemukan apa yang tampak sebagai perbedaan besar yakni materi yang secara signifikan lebih merata dan tidak menggumpal dari yang diharapkan.