Cincin Saturnus Diprediksi Akan Menghilang Lebih Cepat

Saturnus
Sumber :
  • Astronomy Now

VIVA Tekno – Dari semua planet di tata surya, Saturnus adalah yang terlihat paling indah karena cincinnya yang mencolok. Dari dekat, cincin-cincin itu berkilau dengan berbagai warna, antara lain pink, abu-abu, dan cokelat. Namun, cincin Saturnus bukan suatu hal yang permanen.

Sulit membayangkan Saturnus tanpa cincin, tapi para peneliti telah mengonfirmasi cincin Saturnus menuju proses menghilang. Dilansir laman NASA, 17 Desember 2018, peneliti NASA telah mengamati cincin Saturnus menggunakan pesawat luar angkasa Voyager 1 & 2.

Saturnus.

Photo :
  • PBS

Hasilnya diketahui bahwa cincin-cincin Saturnus ditarik ke dalam Saturnus oleh gravitasi-gravitasi sebagai hujan partikel es yang berdebu di bawah pengaruh medan magnet Saturnus.

"Kami memperkirakan bahwa 'hujan cincin' ini menguras sejumlah produk air yang dapat mengisi kolam renang berukuran Olimpiade dari cincin Saturnus dalam waktu setengah jam," kata James O'Donoghue dari Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA di Greenbelt, Maryland.

Dikutip The Atlantic, 29 Mei 2023, cincin Saturnus kehilangan materialnya setiap tahun. Mikrometeorit yang masuk dan radiasi matahari mengganggu kepingan kecil materi cincin yang berdebu. Partikel, tiba-tiba berubah, menjadi selaras dengan garis medan magnet Saturnus dan mulai berputar di sepanjang jalur tak terlihat itu.

Ketika partikel terlalu dekat ke bagian atas atmosfer Saturnus, gravitasi menariknya ke dalam, dan kemudian menguap di awan planet. Para astronom menyebut itu hujan cincin.

Saat ini, menurut James O'Donoghue adalah masa kejayaan cincin Saturnus karena manusia bisa melihatnya dalam kondisi baik. O'Donoghue dan ilmuwan lain memperkirakan bahwa cincin itu akan hilang dalam waktu sekitar 300 juta tahun.

Asal Mula Cincin Saturnus

Ilustrasi cincin Saturnus.

Photo :
  • U-Report

Meski tahu akan menghilang, para astronom masih belum mengetahui segalanya tentang cincin-cincin Saturnus tersebut, termasuk asal-usulnya. Berbagai teori telah diajukan untuk asal usul cincin tersebut. Cincin Saturnus telah memesona pengamat selama berabad-abad, tapi baru benar-benar didalami untuk pertama kalinya pada awal 1980-an.

Saat itu, pesawat ruang angkasa Voyager NASA melesat melewatinya selama tur besar-besaran ke planet-planet luar. Pada saat itu, para ilmuwan menduga bahwa cincin itu mungkin terbentuk di samping Saturnus sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu, ketika tata surya masih muda dan riuh.

Diduga saat itu karena benda-benda berbatu beterbangan di mana-mana, sebuah planet baru bisa dengan mudah menangkap benda-benda berbatu itu, dan membuatnya menetap dengan gravitasi. Namun pengamatan Voyager kemudian mengungkapkan hal yang lebih rinci.

Ternyata sistem tidak memiliki massa sebanyak yang diperkirakan para peneliti, artinya, mereka tidak mungkin berusia miliaran tahun.

Usia Cincin Hingga 100 Juta Tahun

Ilustrasi planet Saturnus.

Photo :
  • U-Report

Perkiraan usia cincin itu antara 10 hingga 100 juta tahun. Hal itu benar-benar membingungkan para peneliti, menurut Jeff Cuzzi, seorang ilmuwan peneliti di NASA dan seorang ahli cincin planet. Kemudian pengamatan yang lebih baru menggunakan pesawat ruang angkasa NASA bernama Cassini mempelajari lebih detail lagi.

Pengukuran terakhirnya mendukung apa yang telah diamati oleh misi Voyager, bahwa cincin itu tidak terjadi di awal pembentukan tata surya. Akan tetapi komunitas sains belum mencapai konsensus tentang kisah asal usul cincin Saturnus.