Penemu Obat Herbal China Raih Nobel Kedokteran

Peraih Nobel Kedokteran 2015
Sumber :
  • The Guardian

VIVA.co.id - Penemu obat tradisional China yang bisa dimanfaatkan untuk melawan malaria menjadi satu di antara tiga peraih hadiah Nobel bidang Kedokteran. Dua lainnya adalah ilmuwan dari Jepang dan Irlandia.

Ketiga peraih medali Nobel Kedokteran itu dianggap sebagai pahlawan sejati di dunia, yang mampu menyelamatkan jutaan nyawa dari penyakit malaria. Bahkan, ilmuwan dari Jepang dan Irlandia mampu menemukan obat untuk penyakit-penyakit tropis lainnya.

Youyou Tu merupakan peraih Nobel Kedokteran pertama yang berasal dari China. Wanita itu memiliki resep kuno yang ternyata bisa mengubah herbal menjadi artemesinin. Itu dianggap sebagai obat paling ampuh saat ini untuk mengobati malaria.

Tu menemukan jika senyawa dari tanaman apsintus sangat efektif melawan parasit penyebab malaria. Dia menemukannya saat mengerjakan proyek militer.

Dengan pengobatan ini, Tu harus berbagi hadiah sebesar US$960 ribu dengan mikrobiolog dari Jepang, Satoshi Omura, dan ilmuwan Irlandia William Campbell.

Omura dan Campbell menciptakan obat bernama avermectin, yang turunannya dianggap ampuh melawan kaki gajah dan penyakit lain yang disebabkan oleh cacing parasit yang disebar oleh nyamuk dan lalat. Para penderita penyakit ini berasal dari Afrika, Amerika Latin, dan Asia, yang menjadi buta atau cacat dan tidak bisa bekerja.

"Dampak dari obat ini adalah peningkatan kesehatan umat manusia dan mengurangi penderitaan mereka. Ini sangat tidak terukur nilainya. Mereka adalah pahlawan sebenarnya yang mampu menyelamatkan nyawa lewat obat yang ditemukan," ujar Komite Nobel, seperti dikutip dari Business Insider, Kamis 8 Oktober 2015.

Tu saat ini berusia 84 tahun dan menjabat sebagai peneliti di China Academy of Chinese Medical Sciences. Pada 1969, saat menemukan obat malaria dari senyawa herbal itu, dia masih berperan sebagai peneliti junior hasil rekrutmen pemerintahan Mao, lewat sebuah proyek militer.

Campbell, berusia 85 tahun, merupakan peneliti dari Drew University, New Jersey. Dia menemukan obat itu pada 1975 saat masih bekerja di perusahaan farmasi, Merck.

Sementara itu, Omura, berusia 80 tahun, merupakan profesor di Kitasato University Jepang. Omura mendedikasikan penghargaan Nobel ini justru kepada mikroorganisme.

"Saya telah belajar banyak dari mikroorganisme dan saya sudah ketergantungan dengan mereka. Jadi, saya sepertinya akan memberikan hadiah ini untuk mereka, para mikroorganisme," kata Omura. (art)