Terungkap, Peretas Rela Lembur Panjang Demi Pelanggan

Ilustrasi hacker.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Andry Arifin

VIVA.co.id –  Sebuah laporan keamanan yang dirilis oleh SecureWorks Dell mengungkapkan temuan menarik dalam dunia kejahatan siber. Laporan itu menemukan peretas di seluruh dunia, khususnya di Rusia, belakangan rela lembur berjam-jam untuk menawarkan dan memberikan layanan prima bagi pelanggan.

Disebutkan, demi memberikan layanan terbaik ke pelanggan, peretas bahkan banyak yang lembur pada akhir pekan dan menjanjikan bisa dihubungi setiap saat 24 jam selama 7 hari.

Dikutip dari Sputniknews, Rabu 6 April 2016, SecureWorks Dell diketahui menyediakan solusi keamanan berbasis canggih untuk melawan serangan siber. Bisnis kejahatan siber muncul berkat adanya permintaan dan pasokan. Laporan dari perusahaan itu menambahkan, banyak peretas yang saat ini menyediakan kemampuan bekerja sebagai 'penjamin' pelanggan.

"Seorang penjamin dalam transaksi yang sah umumnya memastikan pertukaran data dan pembayaran terjadi secara adil, yang mana kendali uang dan produk sebelum mendistribusikan dalam transaksi," jelas laporan tersebut.

Salah satu bentuk layanan yang disediakan kelompok peretas ini yaitu mengakses akun email Yahoo dan Google maupun email dari Rusia dan Ukrania seperti Mail.ru, Yandex, Rambler dan Ukr.net. Menurut laporan ini, biaya untuk meretas email antara US$65-US$129. Selain itu, peretas juga menawarkan peretasan pada akun media sosial pengguna Rusia dan Amerika Serikat, email perusahaan, menjual kartu kredit rahasia dari seluruh dunia.

Layanan lain yang lebih kompleks dan disebutkan populer, yaitu serangan yang meruntuhkan server (distributed denial of service /DDoS) sampai mengumpulkan data atas seseorang tertentu.

"Peretas menjual informasi dan dokumen dari organisasi Rusia, termasuk data rahasia terkait semua akun bank berbagai perusahaan," ujar laporan tersebut.

Selain menjual data dan informasi rahasia, peretas tersebut juga menjual identitas, passport, dan dokumen penting lainnya.

"Biaya untuk passport AS dari US$3 ribu sampai sebanyak US$10 ribu," katanya.

Mengingat risiko tersebut, maka disarankan agar perusahaan dan individu menerapkan perlindungan atas serangan siber serta membangun teknologi pertahanan dengan menggunakan email terenkripsi.