Mengenal Proxy War

Karikatur Jokowi yang menggambarkan keberaniannya menantang China.
Sumber :
  • manilatimes.net

VIVA.co.id – Istilah proxy war dalam beberapa waktu terakhir kian sering dipakai dan didengar khalayak. Istilah ini memang merujuk pada strategi memenangkan sebuah kepentingan tanpa bertempur.

Dosen program studi peperangan asimetrik Universitas Pertahanan, Yono Reksoprodjo, menjelaskan proxy war merupakan bentuk dari strategi peperangan era modern yang tidak ada aturan dan ketentuannya. 

"Strategi perang itu ada dua yaitu perang konvensional dan perang asimetrik," ujar Yono kepada VIVA.co.id, Rabu malam, 4 Januari 2017.

Dia menjelaskan perang konvensional merupakan strategi perang dengan melibatkan sumber daya konvensional, misalnya tentara, pesawat, tank, baju tentara. Dalam perang konvensional ini memiliki aturan yang merujuk pada Konvensi Jenewa. 

Sementara dalam perang asimetrik, merupakan strategi yang tidak memiliki aturan seperti pada perang konvensional. Mengingat dalam perang asimetrik tak ada aturan maka turunan dari perang asimetrik ini bisa bentuknya bermacam-macam. 

"Bisa pertempuran pakai senjata, bisa tidak pakai senjata. Misalnya perang sektor sosial, perang informasi, perang budaya, perang ekonomi, sampai perang politik," kata dia. 

Dia menyebutkan proxy war termasuk dalam turunan strategi perang asimetrik.

Dalam kajian perang, jelas Yono, melibatkan dua hal yakni pelaku dan sarana. Dalam era modern, sarana yang dipakai dalam peperangan Proxy yaitu elektronik. "Maka perang di era saat ini amunisinya adalah informasi," kata dia. 

Terkait dengan pelaku perang, maka ada dua unsur pelaku langsung dan pelaku tidak langsung. Pelaku langsung adalah pelaku perang yang memiliki niat untuk mencapai kepentingan tertentu. Dalam rangka mencapai keinginan tersebut, pelaku langsung tersebut bisa memanfaatkan orang lain sebagai ‘kaki tangan’. "Nah kaki tangan ini istilahnya adalah proxy," jelas dia. 

Pria yang pernah menjadi staf ahli Menkopolhukam ini mengatakan, proxy terbagi menjadi dua yaitu proxy yang sadar, tahu dia dimanfaatkan atau menjadi bagian dalam mencapai kepentingan tertentu dan kedua, proxy tak sadar (innocent proxy).

Proxy yang sadar, meliputi orang yang terlibat dalam perang asimetrik baik dibayar maupun tidak dibayar karena punya keinginan yang sama. 

"Innocent proxy ini orang yang tak tahu menahu kalau dia dimanfaatkan untuk kepentingan dia (pemilik kepentingan)," kata pria berkaca mata tersebut. 

Dia mencontohkan, salah satu bentuk proxy adalah yang dilakukan Amerika Serikat untuk mencapai keinginannya dalam perang dunia Arab dan Israel. 

Demi mewujudkan kepentinganya di Timur Tengah, menurutnya, AS menciptakan proxy-proxy, yakni Hizbullah, ISIS sampai Al Qaeda. 

"Mereka (pemerintah AS) membikin ini (ISIS, Al Qaeda) dan mereka memang mengakuinya tak pernah membantahnya," kata dia. 

AS membuat proxy, jelas Yono, karena didorong Vietnam Syndrom. Dalam perang Vietnam melawan Uni Soviet, negeri Paman Sam itu memang kalah, babak belur dihantam Uni Soviet. 

Belajar dari kekalahan itu, AS mencatatkan momen itu sebagai pelajaran dan dicatat dalam dokumen negara, agar tidak masuk lagi perang. Sebabnya, jika AS terjun langsung dalam perang, maka bakal ada warga negara yang meninggal. 

Proxy war Indonesia

Yono mengatakan proxy war, merupakan salah satu bentuk penerjemahan teori seni berperang dari ahli militer Tiongkok, Sun Tzu yang ditulis sekitar abad ke-6

Dalam pemikirannya, Sun Tzu mengatakan perang yaitu pertama, mengalahkan lawan tanpa bertempur atau tanpa mengeluarkan tenaga. Kedua, berperang tanpa memakai senjata tapi menang. Ketiga, menangkan kendali, pikiran dan hati orang. 

"Kini dengan hoax dapat mengendalikan pikiran orang. Orang enggak tahu (sahih atau tidak informasi yang diterima) tapi kemudian disebar hingga membentuk sebuah koloni. Ini menjalankan teori Sun Tzu," jelas dia. 

Pada era media sosial, pola proxy war menurutnya sama saja dengan pola proxy war yang sudah berjalan di atas. "Bedanya adalah dia pakai media sosial. Intinya di sini adalah perang informasi," kata Yono. 

Untuk konteks Indonesia, Yono berpandangan, sangat rentan masyarakat Indonesia bisa terseret dalam proxy war yang diciptakan pihak tertentu. Bahkan dia mengatakan masyarakat Tanah Air cenderung bisa masuk dalam kategori innocent proxy. 

Kecenderungan itu karena faktor tingkat pengetahuan sebagian masyarakat Indonesia belum begitu cerdas. 

"Kemungkinan hal ini bisa saja terjadi karena hal itu tergantung dengan tingkat pendidikan dalam hal ini pengetahuan ya, bukan strata pendidikan. Orang gampang terpengaruh dan belum begitu bagaimana untuk menganalisis informasi," kata dia. (ase)