Perbankan Malaysia Bantah WannaCry Serang ATM dan Bank

Ilustrasi malware.
Sumber :
  • www.pixabay.com/typographyimages

VIVA.co.id – Asosiasi Perbankan di Malaysia atau ABM angkat bicara dengan munculnya rumor ransomware WannaCry berdampak pada layanan perbankan setempat. Malaysia menjadi salah satu di antara negara yang terdampak dengan serangan ransomware WannaCry. Perwakilan asosiasi itu membantah WannaCry telah menyerang sistem perbankan.

Dikutip dari The Star, Kamis 18 Mei 2017, menyusul serangan WannaCry yang muncul pekan lalu, isu makin liar berkembang di negeri jiran. Berkembang kabar di media sosial, WannaCry telah menyerang jaringan online perbankan dan mesin ATM. Kabar ini tegas dinyatakan tidak benar. 

"Anggota perbankan kami yang menyediakan perbankan online dan layanan ATM mengonfirmasi layanan beroperasi seperti biasanya," kata perwakilan ABM dalam pernyataannya. 

ABM mengakui, memang ada gangguan pada beberapa layanan ATM selama munculnya serangan WannaCry, tapi itu bukan akibat dampak ransomware tersebut. Gangguan ATM itu karena masalah pemeliharaan normal atau sistem manajemen rutin. 

ABM menegaskan, asosiasi telah mengambil langkah antisipasi atas munculnya WannaCry dan memastikan tidak berdampak pada layanan mereka. 

"Industri perbankan komersial mengambil langkah sangat serius dalam hal keamanan siber dan kami selalu waspada dalam mengelola risiko yang terkait dengan keamanan siber," ujar ABM. 

Salah satu mekanisme untuk menekan serangan ke tubuh perbankan, yakni penerapan mekanisme check and balances dalam pemantauan transaksi, yang telah dilakukan perbankan di negeri jiran tersebut. 

Sebelumnya, beredar rumor di Malaysia untuk waspada bertransaksi pada semua mesin ATM seiring dampak WannaCry. (Baca: WannaCry Bisa Bikin Stres)

Ransomware WannaCry menghebohkan dunia pada Jumat pekan lalu. Serangan virus pemalak ini telah berdampak pada 300 ribu lebih komputer di seluruh dunia. 

WannaCry menahan data pada komputer yang terinfeksi dan membuat pemilik komputer tak bisa mengakses data mereka. Penyerang meminta sejumlah tebusan untuk bisa melepas data yang mereka tawan.