Ransomware WannaCry dan Cuci Tangan Intelijen AS
- Dreamstime.com
VIVA – Jumat, 12 Mei 2017, dunia tersentak dengan serangan program jahat komputer yang menyandera dokumen korban dengan algoritma enkripsi khusus (ransomware) WannaCry yang menyerang sistem komputerisasi.
Virus ini cepat menyebar dan mengenkripsi ratusan ribu komputer di lebih dari 150 negara dalam hitungan jam saja.
Ini kali pertamanya ransomware, sebuah malware yang mengenkripsi file pengguna dan menuntut cryptocurrency sebagai tebusan untuk membuka kunci dokumen penting, telah menyebar ke seluruh dunia dalam apa yang tampak seperti serangan siber yang terkoordinasi dengan sempurna.
Inggris adalah 1 dari 150 negara yang terdampak. Mulai dari rumah sakit, kantor pemerintahan, jaringan transportasi publik, sampai perusahaan swasta terkena serangan ini.
Para peneliti keamanan dengan cepat menyadari bahwa malware itu menyebar seperti belut yang langsung menyerang jaringan seluruh komputer menggunakan protokol Windows SMB.
Ini merupakan protokol berbagi file dalam jaringan yang memungkinkan aplikasi untuk membaca atau menulis pada komputer lain selama dalam satu jaringan yang sama.
![]()
Kecurigaan langsung tertuju kepada sekelompok alat mata-mata sangat rahasia yang dikembangkan oleh Badan Keamanan Nasional (National Security Agency/NSA) Amerika Serikat. Hal ini karena beberapa minggu sebelumnya telah dicuri dan diterbitkan secara online untuk digunakan siapa saja.
DoublePulsar
"Ini benar-benar nyata. Pukulannya sangat besar," kata Kevin Beaumont, seorang peneliti keamanan yang berbasis di Inggris, seperti dikutip TechCrunch, Selasa, 14 Mei 2019. Menurut Beaumont jika komputer terkena ransomware maka sebagian besar file mereka tidak bisa diselamatkan.
Meski pemicunya dari alat peretasan milik intelijen AS, namun yang dijadikan 'kambing hitam' adalah kelompok peretas lain. Padahal, siapa dalangnya yang menyebabkan alat ini bocor ke publik dan berdampak besar pada keamanan siber di seluruh dunia tidak diungkap.
Adalah kelompok peretas tidak dikenal (unknown hacker group), yang kemudian diyakini bekerja untuk pemerintah Korea Utara, dituding telah mengambil senjata siber milik NSA yang telah bocor ke publik.
Kelompok ini menggunakan alat mata-mata lainnya milik NSA, DoublePulsar, yang berfungsi sebagai pintu masuk belakang (backdoor) bagi malware lain untuk masuk ke dalam komputer berbasis Windows.