Ransomware WannaCry dan Cuci Tangan Intelijen AS

Ilustrasi hacker.
Sumber :
  • Dreamstime.com

VIVA – Jumat, 12 Mei 2017, dunia tersentak dengan serangan program jahat komputer yang menyandera dokumen korban dengan algoritma enkripsi khusus (ransomware) WannaCry yang menyerang sistem komputerisasi.

img_title Jangan Percaya Ada yang Ngaku-ngaku Perekrut BUMN atau Tech Titan di LinkedIn

Virus ini cepat menyebar dan mengenkripsi ratusan ribu komputer di lebih dari 150 negara dalam hitungan jam saja.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ini kali pertamanya ransomware, sebuah malware yang mengenkripsi file pengguna dan menuntut cryptocurrency sebagai tebusan untuk membuka kunci dokumen penting, telah menyebar ke seluruh dunia dalam apa yang tampak seperti serangan siber yang terkoordinasi dengan sempurna.

img_title AI Sekarang bisa Meretas dalam 31 Detik Tanpa Bantuan Manusia

Inggris adalah 1 dari 150 negara yang terdampak. Mulai dari rumah sakit, kantor pemerintahan, jaringan transportasi publik, sampai perusahaan swasta terkena serangan ini.

Para peneliti keamanan dengan cepat menyadari bahwa malware itu menyebar seperti belut yang langsung menyerang jaringan seluruh komputer menggunakan protokol Windows SMB.

img_title Masih Ingat Gary McKinnon? Hacker yang Pernah Menghebohkan Pentagon dan NASA Kini Jadi Produser Musik

Ini merupakan protokol berbagi file dalam jaringan yang memungkinkan aplikasi untuk membaca atau menulis pada komputer lain selama dalam satu jaringan yang sama.

Kecurigaan langsung tertuju kepada sekelompok alat mata-mata sangat rahasia yang dikembangkan oleh Badan Keamanan Nasional (National Security Agency/NSA) Amerika Serikat. Hal ini karena beberapa minggu sebelumnya telah dicuri dan diterbitkan secara online untuk digunakan siapa saja.

DoublePulsar

"Ini benar-benar nyata. Pukulannya sangat besar," kata Kevin Beaumont, seorang peneliti keamanan yang berbasis di Inggris, seperti dikutip TechCrunch, Selasa, 14 Mei 2019. Menurut Beaumont jika komputer terkena ransomware maka sebagian besar file mereka tidak bisa diselamatkan.

Meski pemicunya dari alat peretasan milik intelijen AS, namun yang dijadikan 'kambing hitam' adalah kelompok peretas lain. Padahal, siapa dalangnya yang menyebabkan alat ini bocor ke publik dan berdampak besar pada keamanan siber di seluruh dunia tidak diungkap.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Adalah kelompok peretas tidak dikenal (unknown hacker group), yang kemudian diyakini bekerja untuk pemerintah Korea Utara, dituding telah mengambil senjata siber milik NSA yang telah bocor ke publik.

Kelompok ini menggunakan alat mata-mata lainnya milik NSA, DoublePulsar, yang berfungsi sebagai pintu masuk belakang (backdoor) bagi malware lain untuk masuk ke dalam komputer berbasis Windows.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut