Ransomware WannaCry dan Cuci Tangan Intelijen AS

Ilustrasi hacker.
Sumber :
  • Dreamstime.com

DoublePulsar diketahui telah menginfeksi lebih dari 200 ribu komputer dalam rentang 20 dan 24 April 2017, atau sepekan sejak serangan dimulai. Selain serangan ransomware, komputer berbasis Windows juga menerima serangan lain.

img_title Hacker Juga Pakai AI

Menurut situs Wired, sebuah proyek bernama ELSA bikinan NSA, diketahui mampu mengintip lokasi seorang pengguna komputer berbasis Windows. ELSA bekerja dengan menginjek komputer korban dengan malware yang mampu melakukan cek terhadap wifi publik yang diakses komputer korban.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Marcus Hutchins

img_title Hacker Iran Retas Data Orang Kepercayaan Netanyahu, Isi Dokumennya Bikin Geger

Penggunaan ELSA, NSA di bawah kendali pemerintah Amerika Serikat, bisa mengetahui posisi pengguna komputer berbasis Windows yang telah diperdaya oleh ELSA.

Sistem operasi besutan Microsoft memang seringkali menghadapi serangan-serangan digital, dalam bentuk virus, malware, maupun serangan-serangan digital lainnya.

img_title Hacker Handala Ungkap Rahasia Bobol Sistem Intelijen Israel

Salah satu indikator banyaknya serangan yang menimpa Windows, bisa dilihat dari banyaknya antivirus yang dibikin untuk sistem operasi tersebut dibandingkan sistem operasi lainnya.

Dengan demikian, tidaklah mengherankan adanya stereotip yang berkembang bahwa Windows, merupakan sistem operasi yang rawan terhadap serangan. Namun, serangan WannaCry tak berlangsung lama sebab berhasil dihentikan oleh seorang peneliti keamanan muda.

Dikutip dari The Guardian, ransomware WannaCry berhasil dihentikan oleh Marcus Hutchins. Ia mengaku tak sengaja telah menghentikan WannaCry dengan mengaktifkan tombol 'pembunuh' ransomware tersebut.

Ilustrasi virus Ransomware WannaCry.

Hutchins kemudian menganalisis sampel perangkat lunak berbahaya tersebut dan melihat kodenya, termasuk alamat web tersembunyi penyebar ransomware yang tidak terdaftar. Kemudian ia segera mendaftarkan domain penyebar ransomware itu ke domain khusus untuk alamat yang tak jelas.

Modus yang sama

Pascaserangan WannaCry, tiba-tiba muncul serangan ransomware berikutnya, NotPetya. Kejadian ini berjarak satu bulan, atau Selasa, 27 Juni 2017. Sejumlah perusahaan dari berbagai penjuru dunia dilaporkan kembali terkena serangan ransomware jenis baru.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

NotPetya diketahui mengambilalih server di perusahaan minyak terbesar Rusia dan mengganggu operasional bank-bank di Ukraina, serta merusak komputer di perusahaan perkapalan dan periklanan multinasional.

Aksi siber skala besar yang bermula di Ukraina semakin menyebar ke seluruh dunia, termasuk di AS. Ransomware jenis ini juga meminta korban membayar 300 dollar AS dalam bentuk Bitcoin.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut