Cegah Resistensi Antibiotik dengan Cara Ini

Ilustrasi suplemen.
Sumber :
  • Pixabay

VIVA.co.id - Pada tahun 2050 diperkirakan jumlah kematian tertinggi bukan lagi disebabkan penyakit jantung, diabetes, melainkan karena AMR atau antimicrobial resistance.

"Pada tahun 2050, diperkirakan 10 juta kematian akibat resistensi antimikroba (antimicrobial resistance) akan terjadi per tahunnya," ujar dr. Harry Parathon, Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan RI, yang ditemui dalam acara Pfizer Journalist Class, 21 Januari 2016.

Untuk itu, masyarakat harus lebih pintar dalam menyikapi keberadaan antibiotik. Ada beberapa cara yang bisa dijadikan pedoman bagi masyarakat agar terhindar dari resistensi terhadap antibiotik.

Pertama, jangan sembarangan mengonsumsi antibiotik. Konsumsi antibiotik hanya dengan resep dokter, dosis, dan jangka waktu sesuai resep. Kedua, jangan membeli antibiotik berdasarkan resep sebelumnya, meski untuk penyakit yang sama. Dan jangan mengonsumsi antibiotik yang tersisa. Jika masih tersisa, sebaiknya jangan digunakan.

Ketiga, saat berobat, tanyakan kepada dokter, obat mana saja yang mengandung antibiotik. Tanyakan dosis dan cara minumnya. Salah dalam penggunaan antibiotik bisa menyebabkan antibiotik tidak efektif, dan kebal terhadap kuman.

Keempat, habiskan obat antibiotik sesuai anjuran dokter dan jangan menghentikan antibiotik hanya karena merasa sudah lebih baik, atau menghentikan antibiotik terlalu cepat. Itu bisa membuat bakteri bertahan hidup dan menyebabkan infeksi berulang.

Kelima, pilek, batuk, diare, bronkitis, radang tenggorokan, infeksi telinga, umumnya tidak memerlukan antibiotik.

(mus)