Ada yang Lebih Mematikan dari COVID-19
- vstory
“Anda bukan atasan saya,” tegas Eric. Karyawan toko milik Mutasiga baru saja ditahan. “Saya memohon kepada polisi untuk melepaskan karyawan saya itu. Mereka lalu berdebat sendiri apakah akan melepaskannya,” kata Mutasiga kepada wartawan.
Lalu orang-orang berkumpul dan suasana memanas. “Salah seorang polisi berkata bahwa saya bukan atasannya. Ia bilang bisa saja menembak saya”.
“Saat saya berpaling akan pergi, salah satu polisi menembak ke udara. Saya berputar untuk melihat apa yang terjadi, dan saya lihat dia mengarahkan senjata ke saya”.
“Pelurunya menembuk kaki kiri saya dan saya jatuh. Mereka lalu naik ke atas motor mereka dan pergi”. Ini disampaikan Mutasiga saat ia dibawa dengan kursi roda ke rumah sakit. Polisi tidak memverifikasi keterangannya.
Keluarga berharap Mutasiga akan pulih seperti sedia kala. “Kami tinggal di rumah sakit menunggu pembedahan. Namun setiap kali kami tanya, petugas kesehatan bilang mereka tak bisa mengoperasinya,” kata ibunya.
Mutasiga akhirnya dibawa ke meja operasi tanggal 8 Juni, dan meninggal di sana. Sertifikat kematian menyatakan ia meninggal dunia akibat luka tembak di kakinya.
Ibunda Eric Mutasiga, Joyce, berkata, “anyak yang menyarankan saya ke pengadilan. Tapi polisi tidak mengungkap identitas penembak. Siapa yang harus saya tuntut?”
Meninggal dunia di pelukan
Farida Nanyonjo sangat marah lantaran adiknya Robert Senyonga, meninggal dunia akibat dipukuli.
Tengah hari pada 7 Juli, ia menerima telepon dari atasannya. Katanya, ia harus segera ke kota Jinja karena adiknya, Robert, dipukul berkali-kali dengan gagang pistol oleh seorang yang dipercaya sebagai anggota LDU.
Pemukulan itu membuat tengkorak Robert retak. Farida tiba malam hari dan membawa Robert ke rumah sakit di ibu kota.
“Kami tiba di Mulago pukul 2 pagi dan menghabiskan malam di lantai bangsal rumah sakit. Saya minta kamar kepada petugas kesehatan, tapi malah dimintai uang. Adikku akhirnya dikasih tempat tidur pagi harinya,” kata Farida.
Dua hari kemudian, Robert Senyonga dapat jadwal untuk operasi, tapi terlambat. “Saya murka. Mereka memukulinya, dan rumah sakit paling top di negeri ini bahkan tak bisa memberi perawatan yang pantas,” kata Farida.