Ada yang Lebih Mematikan dari COVID-19
- vstory
“Adikku meninggal dunia di pelukanku!”
Sistemik
Sejak pembentukan di awal 2000-an, LDU sudah punya reputasi buruk. Anggotanya sering dituduh melakukan pembunuhan tanpa proses pengadilan, atau menjadi tukang tembak sewaan.
Akhirnya mereka dibubarkan. Maka dari itu warga Uganda keberatan ketika LDU dihidupkan lagi tahun 2018.
LDU dikritik karena dianggap memberi senjata kepada orang-orang muda yang tak terlatih, yang tak mampu juga meredakan konflik di tengah konfrontasi.
Presiden Yoweri Museveni dan pejabat tinggi lain mengutuk pembunuhan-pembunuhan itu.
Namun ketika BBC mengontak beberapa lembaga keamanan terkait, tak ada yang bersedia memberi pernyataan.
Kelompok pembela hak asasi manusia khawatir masalah ini bersifat sistemik.
“Kami menemukan bahwa petugas keamanan menggunakan Covid-19 sebagai alasan untuk melanggar hak asasi manusia,” kata Oryem Nyeko, seorang peneliti di Human Rights Watch.
Pihak keluarga korban menyatakan proses hukum terlalu rumit untuk dijalani. Namun ada dua kisah sukses prosekusi dalam lima bulan terakhir. Satu kasus melibatkan tentara, satu lagi melibatkan anggota LDU.
Tak kembali
Tentara yang membunuh suami Allen Musiimenta dihukum penjara 35 tahun oleh pengadilan militer sesudah dinyatakan bersalah, empat hari setelah peristiwa itu.
Namun Allen tak puas. “Si pelaku dihukum, tapi suamiku tak akan kembali,” kata Allen Musiimenta.
Benon Nsimenta, yang akan dilantik menjadi pendeta di bulan November, ditembak mati di jalan raya di kota Kasese pada 24 Juni 2020.
Ia dan istrinya berangkat dari kampung mereka dengan sepeda motor. Mereka punya dokumen dari pemerintah lokal bahwa motor itu memang milik mereka dan bukan ojek online.
“Tentara yang menyetop kami bahkan tak bertanya. Salah satu dari mereka menyeberang jalan, mengangkat senjata dan menembak suami saya di leher,” kata istri Musiimenta.
Kami mengerjakan proyek keluarga bersama, bicara tentang segala hal. Kami bikin rencana untuk anak-anak kami. Bagaimana saya membiayai pendidikan anak saya,” katanya marah.
Pelatih sepak bola Nelly Julius Kalema selamat dari petugas keamanan. Namun nasibnya nyaris berbeda. Pada 8 Juli, ia membawa pacar temannya, Esther, ke klinik dengan sepeda motor, saat jam malam.