Amerika Cari Masalah di Luar Angkasa

Satelit mata-mata Amerika Serikat (AS), Silent Barker.
Sumber :
  • Angkatan Udara AS

VIVA Tekno – Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat (US Space Force) ingin menempatkan satelit mata-mata 'Silent Barker' barunya pada orbit geosinkron di atas Bumi pada musim panas ini.

AS mengaku mengirim satelit mata-mata untuk membantu jaringan padat sensor berbasis darat memantau aktivitas musuh di luar angkasa.

Program 'kesadaran situasional' yang diklasifikasikan dimulai sebagai kolaborasi antara Komando Ruang Angkasa Angkatan Udara (Air Force Space Command) dengan Badan Pengintaian Nasional (National Reconnaissance Office/NRO) – badan intelijen yang berada di bawah Departemen Pertahanan (Pentagon).

Konstelasi tersebut akan memberi Pentagon kemampuan untuk mencari, mendeteksi, dan melacak objek dari luar angkasa untuk deteksi ancaman tepat waktu, menurut NRO yang dikutip dari situs Sputnik Globe, Senin, 12 Juni 2023.

Pengelompokkan ini juga diharapkan secara dramatis dapat meningkatkan kemampuan Angkatan Luar Angkasa untuk melacak satelit musuh yang bermanuver di sekitar atau di dekat pesawat AS, sehingga memungkinkan Pentagon untuk benar-benar mencari tahu apa yang terjadi di luar angkasa dengan presisi baru.

Perkembangan tersebut terjadi di tengah rencana militer AS yang kontroversial dan dinyatakan secara terbuka untuk mengubah luar angkasa sebagai wilayah perang.

Menurut Eismont, Rusia dan China berupaya mengendalikan militerisasi ruang angkasa sejak 2008. Jadi ini agak mengkhawatirkan tetapi tidak terduga.

“Ini tidak diragukan lagi sebagai upaya militerisasi karena peralihan ke tugas-tugas yang terpisah dari yang dituntut oleh sains atau ekonomi nasional cukup jelas terlihat di sini,” kata fisikawan ruang angkasa veteran itu.

Bendera Angkatan Luar Angkasa AS (US Space Force).

Photo :
  • The Drive

Dia tidak bisa mengatakan bahwa perkembangan ini membawa ancaman nyata dan bencana, tetapi secara psikologis tentu saja tidak menyenangkan karena dalam semua tugas yang berkaitan dengan luar angkasa, sampai saat ini ada kerja sama yang cukup terlihat.

Misalnya, kolaborasi yang bermanfaat antara Moskow dan Washington DC dalam masalah penting pemantauan puing-puing dan sampah luar angkasa.

Mengingat bahwa praktik menggunakan satelit yang dilengkapi radar khusus untuk memantau satelit lain sudah ada sejak 1960-an dan awal era ruang angkasa, peneliti mengatakan pesawat ruang angkasa baru yang akan ditempatkan di orbit harus memenuhi beberapa hal untuk kemampuan yang sudah dimilikinya selama satu dekade lalu.