Waspada, Gangguan Saraf Kini Menyerang Usia 26-30 Tahun

Ilustrasi kaki
Sumber :
  • Pixabay

VIVA – Selama ini neuropati atau gangguan sistem saraf dianggap hanya menyerang mereka yang berusia tua. Padahal risiko neuropati bisa terjadi pada siapa saja, tanpa memandang usia.

Bahkan dalam paparan Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) Pusat, Dr Manfaluthy Hakim, SpS(K) menyebutkan bahwa kini gejala neuropati sudah dirasakan oleh mereka yang berusia di bawah 30 tahun.

"Jadi sekarang memang usia kelompok 26-30 tahun banyak yang sudah terlihat gejala neuropati atau satu dari tiga orang di usia muda mempunyai gejala neuropati," kata dia saat presentasi Kenali Gejala Neuropati dan Risiko Dampak Permanen pada Tubuh di kawasan Jakarta Selatan, Selasa, 31 Juli 2018.

Jika sebelumnya neuropati banyak diderita oleh orang lanjut usia (lansia), pertanyaannya sekarang, mengapa neuropati kini justru banyak terjadi di usia muda? Menurut Manfaluthy, hal itu karena dipicu beberapa faktor.

"Hal ini ditunjang oleh faktor gaya hldup dengan aktivitas keseharian yang terus-menerus dan berulang, seperti beraktivitas dengan gadget dengan persentase mencapai 61,5 persen," kata dia.

Faktor lainnya, seperti mengendarai motor atau mobil menyumbang 58 persen. Sementara duduk dengan posisi sama dalam waktu yang lama sekitar 53,7 persen, dan mengetik dengan komputer menyumbang 52,8 persen.

Karena itu, tidak heran jika kecenderungan tingginya prevalensi neuropati banyak terjadi di kota besar atau lebih dari 50 persen. Jakarta sendiri menempati peringkat pertama dengan jumlah penderita neuropati terbanyak, diikuti Surabaya, Palembang dan Medan.