Minim Perilaku Hidup Bersih, Picu Anak Kurang Gizi

Bayi baru lahir.
Sumber :
  • Pixabay

VIVA – Masalah gizi buruk pada anak masih menjadi kasus yang cukup memprihatinkan. Data Riskesdas 2018 menunjukkan, sebesar 1,9 persen anak Indonesia masih mengalami gizi buruk dan kurang.

Menkes Nila Moeloek menerangkan bahwa pemerintah sudah berupaya memenuhi kebutuhan gizi anak melalui program pemberian makanan tambahan pada anak. Sayangnya, hal tersebut tidak berpengaruh besar akibat masalah sanitasi yang buruk.

"Artinya pemerintah punya program 'Oke berikan makanan tambahan'. Saya kasih makanan tambahan terus, tadi seperti ada di sana ternyata cacingannya. Jumlah cacing tinggi karena kurang air bersih di sana," ujar Menkes Nila dalam acara Simposium Nasional, di kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis 22 November 2018.

Menkes menjelaskan, pemberian makanan dengan gizi baik tak akan berdampak besar jika masalah sanitasi belum diatasi. Terlebih jika ditambah dengan minimnya pemahaman orangtua terhadap perilaku hidup bersih.

"Selama dia enggak punya air bersih, ibunya enggak pernah cuci tangan, anaknya enggak cuci tangan langsung makan, cacing ikut makan dalam perut akhirnya kurang gizi," tegasnya.

Selain itu, masyarakat Indonesia juga masih dibayangi oleh budaya buang air besar yang bukan pada tempatnya. Hal ini tentu semakin memicu penyebaran cacing yang berdampak pada kasus gizi buruk anak.

"Itu tadi air bersih, sanitasi, bayangin masih ada BAB katanya budaya, gak boleh BAB di jamban musti di luar. Budayanya musti kita ubah kan, nah ini yang mengubah perilaku ini lho yang luar biasa," pungkas Menkes.