Ketahui Perbedaan Tanam Benang dan Tarik Benang

ilustrasi tanam benang
Sumber :
  • Pixabay

VIVA – Seiring dengan kemajuan teknologi, berbagai inovasi pun terus berkembang termasuk dalam dunia kecantikan. Di dunia kecantikan belakangan ini prosedur tanam benang dan tarik benang begitu diminati di masyarakat.

Namun sayangnya, masih banyak orang yang belum paham antara metode tanam benang dan tarik benang. Meski kedua-duanya merupakan sama-sama metode peremajaan kulit wajah tanpa operasi dan menggunakan benang untuk pengencangan wajah, namun teknik, jenis benang, dan bentuk bahannya berbeda.

Lantas apa perbedaan antara tanam benang dan tarik benang? Dilansir dari laman Beautylogica clinic, yang membedakan antara tanam benang dan tarik benang bisa dilihat dari kegunaan dan jenisnya.

Tanam benang sendiri nantinya dokter akan menggunakan tipe benang polis yang ditanam di bawah kulit dan sekitar benang untuk menimbulkan reaksi pembentukan jar fibrinogen dan juga pembentukan kolagen.

Sedangkan untuk tarik benang dokter akan menggunakan tipe benang bergerigi dengan tujuan menarik kulit yang kendur ke arah atas sehingga bagian tersebut akan terlihat lebih tirus.

Dari segi fungsi tanam benang lebih fokus kepada peremajaan kulit karena tujuannya memang ditunjukkan untuk pembentukan kolagen baru, sedangkan tarik benang berfungsi memberikan countur pada bagian yang diinginkan.

Di sisi lain, terkait dengan tanam benang, salah satu treatment yang bisa dilakukan yaitu tarik benang APTOS dari Klinik Dermaster Indonesia. Dimana teknologi ini dapat membantu dalam membuat pipi kencang, dagu terlihat V-Share hingga hidung mancung tanpa operasi plastik.

Teknologi ini sendiri dapat bertahan cukup lama di wajah dan baru terserap perlahan setelah 16 – 18 bulan, dan dengan teknologi yang canggih menghasilkan efek lifting yang bertahan lebih lama dengan design duri yang terfiksasi sempurna pada jaringan kulit membuat wajah tampak lebih muda dan segar.

“Keunggulan benang APTOS yaitu benang paling tahan lama di dunia, di bandingkan benang lainnya. Di luar negeri ada yang bisa di serap dan tidak, tetapi kami menggunakan benang tersebut yang bisa di serap,” ujar Head Doctor Of Dermaster Clinic Network, dr. Jessy Suryadi dalam keterangannya. 

Ia menambahkan, benang ini memiliki banyak jenis diantaranya tergantung lokasi wajah yang akan di kerjakan, seperti jenis benang light lift spring untuk bagian bibir karena benangnya lebih elastis, exelent visage untuk merangsang kolagen kulit agar lebih kencang dan padat dan thread 2G digunakan untuk lifting.

Pihaknya sendiri telah menggunakan teknologi benang APTOS terbar yakni, APTOS generasi 3 (tiga) dimana generasi baru ini berbeda dengan benang yang beredar di pasaran. Bahan dasar benang APTOS generasi 3 (tiga) adalah Polycaprolactone (PCL) dan Polylactic Acid (PLLA), yang dilapisi oleh Hyaluronic Acid sehingga perasangan kolagen menjadi lebih maksimal.

Kulit menjadi lebih kenyal dan masa pemulihan lebih cepat. Benang ini sendiri dapat digunakan pada berbagai bagian wajah seperti pipi, hidung, double chin, rahang. Dan bahkan untuk area tubuh seperti lengan, perut dan bagian lainnya.

Untuk mendapatkan hasil maksimal, pasien harus bisa membatasi ekspresi wajah yang berlebihan, hindari penekanan seperti memijat agar benang tidak bergeser atau terlepas di posisinya.

Jika pasien bisa menjaga minimal tiga minggu setelah pengerjaan hasilnya bisa lebih lama hingga dua tahun. Efek samping setelah melakukan treatment ini akan ada pembekakan karena anastesi sekitar 5 – 6 hari, tetapi jangan khawatir regularity 7 - 10 hari akan hilang dengan sendirinya.

“Rahasia treatment contouring membuat wajah semakin kencang tidak hanya kualitas produknya tetapi juga tergantung dari penanganan dokter yang berpengalaman. Dokter harus bisa memberikan penilaian secara objektif kepada pasien, tidak hanya yang dilihat kondisi kulit saja tetapi dokter harus pintar, melihat posisi ototnya, dan kondisi lemaknya apakah perlu di tarik benang, filler, atau botox.  Maka pilihlah klinik yang terpercaya dan dokter yang telah mengikuti pelatihan APTOS Indonesia dan bersertifikat,” tutur Jessy.