Kerap Dianggap Sama, Ini Cara Bedakan Angin Duduk dan Masuk Angin

Ilustrasi masuk angin
Sumber :
  • Pixabay

VIVA – Angin duduk dan masuk angin menjadi penyakit yang cukup sering didengar sebagai masalah kesehatan masyarakat luas. Kendati begitu, banyak yang tak menyadari bahwa keduanya merupakan penyakit yang berbeda dan patut diwaspadai dampaknya untuk kesehatan jangka panjang.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Dede Moeswir SpPD, mengatakan bahwa kedua penyakit tersebut dapat dibedakan melalui gejala khas yang ditimbulkan. Pada masuk angin, biasanya ditandai dengan tubuh pegal dan linu serta perasaan letih. 

Berbeda dengan angin duduk yang justru berkaitan erat dengan jantung, bisa timbul gejala berupa nyeri dada. Sayangnya, banyak yang belum memahami hal ini sehingga kerap disepelekan.

"Angin duduk ada hubungannya dengan jantung. Kalau masuk angin lebih ke pegal-pegal. Kejadian-kejadian angin duduk justru bisa berakibat fatal," terang dokter Dede, dalam acara Hidup Sehat, tvOne, baru-baru ini.

Ilustrasi serangan jantung/stroke.

Photo :
  • Freepik/rawpixel.com

Dokter Dede menjelaskan bahwa angin duduk sendiri dalam bahasa medis disebut sebagai angina. Gejala khasnya adalah nyeri dada karena berhubungan dengan penyakit jantung. Maka, gejala nyeri dadanya pun juga memiliki tanda tak biasa yang patut dikenali.

"Berhubungan dengan problem penyakit jantung sebagai gejala khas. Nyeri seperti diremas, ditimpa benda berat, ditusuk benda tajam. Nyeri bisa ke rahang bahkan sampai punggung. Ini sangat beda dengan masuk angin," terangnya.

Selain nyeri, dokter Dede juga menjabarkan bahwa angina paling sering terjadi ketika ada perubahan emosi atau aktivitas berat. Misal, pasien emosi yang meluap atau sedang olahraga dan kerja berat. Yang artinya, pasien sedang melakukan kegiatan yang membuat kebutuhan oksigen jantung meningkat.

Dokter Dede juga menyampaikan bahwa angina merupakan kondisi kronis yang terjadi secara bertahap. Hal ini berbeda dengan penyakit lain yang diakibatkan virus dan infeksi. Maka, jika seseorang memiliki faktor risiko seperti diabetes, dianjurkan melakukan pemeriksaan medis menyeluruh untuk mendeteksi penyakit ini.

"Pada fase tertentu, kebutuhan oksigen ke tubuh berkurang. Salah satunya penyakit jantung koroner. Apabila berat, bisa timbul gejala berupa tidak nyaman di dada dikenal sebagai angina itu atau angin duduk. Bisa alami keluhan ini berarti ada masalah di jantung," pungkasnya.