Ngeri, Deret Penyakit Berbahaya Ini Mengintai Penyandang Diabetes

Pasien diabetes
Sumber :
  • Eat This

VIVA Lifestyle – Diabetes menjadi salah satu penyakit yang kerap tak disadari lantaran tak memicu gejala yang khas saat lonjakan gula darah terjadi. Hal tersebut membuat kondisi penyandang diabetes rentan terhadap penyakit berbahaya yang mengintai sebagai komplikasi.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Kementerian Kesehatan RI, Dr. Eva Susanti, S.Kp., M.Kes mengungkapkan bahwa secara global, Hari Diabetes Sedunia 2022 mengangkat tema “Education to Protect Tomorrow” sementara untuk tema nasional yaitu “Cegah dan Kendalikan Diabetes untuk Masa Depanmu”. Di Indonesia, jumlah penderita diabetes terus meningkat dari 10,7 juta pada tahun 2019 menjadi 19,5 juta pada tahun 2021.

"Angka ini menduduki peringkat ke-5 dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia dan diperkirakan mengalami peningkatan menjadi 28,6 juta pada tahun 2045," ujar Eva dalam konferensi pers peringatan Hari Kesehatan Nasional sekaligus Hari Diabetes Sedunia 2022 bersama Nutrifood, Kamis 17 November 2022.

Dokter Esti menjelaskan bahwa diabetes merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi beban kesehatan. Hal itu terjadi karena diabetes telah menyerang setidaknya 537 orang di seluruh dunia, dan angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 783 juta pada tahun 2045. 

"Kondisi ini dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya gaya hidup kekinian yang sering mengonsumsi makanan dan minuman dengan gula berlebih serta kurangnya olahraga, sehingga berisiko terkena diabetes," kata dia.

Ilustrasi wanita memeriksa gula darah

Photo :
  • eatthis.com

Senada, bahaya diabetes tidak hanya sekadar lonjakan gula darah namun berdampak pada sistem peredaran darah dan jantung. Tak heran, diabetes dinilai sebagai sumber penyakit yang berdampak pada komplikasi berbahaya dalam jangka panjang. Apa saja bahaya yang mengintai?

“Kondisi diabetes saat ini sangat mengkhawatirkan, mengingat diabetes merupakan Mother of Diseases karena menyebabkan munculnya kompilasi berbagai penyakit seperti hipertensi, penyakit jantung dan pembuluh darah, stroke, gagal ginjal, kebutaan serta komplikasi berbagai organ lainnya," kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Rudy Kurniawan, SpPD, DipTH, MM, MARS.

Maka dari itu, kata dokter Esti, penanggulangan penyakit diabetes perlu dilakukan secara komprehensif oleh seluruh lapisan masyarakat. Kementerian Kesehatan RI berkomitmen melakukan Transformasi Kesehatan khususnya di layanan primer dan layanan rujukan.

Transformasi layanan primer dengan promosi dan edukasi untuk mengubah pola hidup, menjaga pola makan dan melakukan aktivitas fisik dengan perilaku CERDIK. Kemudian, deteksi dini faktor risiko diabetes dapat dilakukan di Posyandu.

Ketiga, peningkatan layanan primer dengan pengembangan panduan praktik agar pasien yang telah dideteksi dini mendapatkan tatalaksana dan pengobatan sesuai standar dan terkontrol kondisinya.

Sementara untuk transformasi layanan rujukan, disusun program jejaring rujukan nasional. Penanganan ini dicanangkan lantaran diabetes yang terlambat diatasi dapat berisiko pada penyakit berbahaya.

"Individu dengan riwayat Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) atau Glukosa Darah Puasa (GDP) terganggu atau kelompok pre-diabetes perlu lebih memerhatikan diri dan menerapkan pola hidup sehat salah satunya dengan memperhatikan asupan makanan dan minuman, agar kondisi mereka tidak berlanjut menjadi diabetes melitus," tutur dokter Rudy.