Pegal Hingga Lumpuh Permanen, Waspadai Gejala Polio

Ilustrasi anak/balita.
Sumber :
  • Freepik/rawpixel.com

VIVA Lifestyle – Satu kasus polio yang dilaporkan tak bisa diabaikan karena dapat mengintai anak-anak, meski begitu tak perlu juga panik berlebihan. Untuk itu, orangtua sepatutnya memahami seluk beluk polio untuk mewaspadai sejak dini, termasuk gejala dari penyakit lawas ini.

Polio dianggap sebagai penyakit lama karena sudah ditemukan sejak puluhan tahun lalu dan menulari ratusan orang, khususnya anak-anak. Perwakilan WHO Indonesia menyebutkan bahwa sebenarnya kasus polio pada anak didominasi dengan tanpa gejala sehingga sulit dikenali, namun berpotensi menulari karena membawa virus.

"Sekitar 70 persen, terutama pada anak, asimtomatis (tidak ada gejala). Kita menemukan seperti contoh di Papua, 2 kasus positif dari anak sehat artinya ada anan karier (pembawa virus)," ujar NPO Surveilance-WHO Indonesia, dr Musthofa Kamal MSc, dalam live instagram Dinkes DKI Jakarta, Selasa 22 November 2022.

Ilustrasi anak sakit.

Photo :
  • Freepik/DCStudio

Dokter Kamal melanjutkan bahwa 24 persen pada kasus polio tersebut mengalami gejala minor. Ini cenderung mengarah pada gejala ringan seperti demam atau hangat dan nyeri tenggorokan, yang tidak khas sehingga juga sulit dikenali oleh banyak orang, bahkan cenderung memahaminya sebagai gejala infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) semata.

"Gejala minor akan sembuh dalam waktu satu minggu," bebernya.

Lebih dalam, 1 sampai 5 persen kasus polio menunjukkan gejala berat yang menyulitkan anak bergerak mulai dari pegal dan kaku sendi. Mirisnya, sekitar 1 persen kasus polio bisa berdampak lebih berat dengan menyebabkan lumpuh layu akut bahkan bisa memicu kelumpuhan permanen.

"Satu persen nanti sebabkan lumpuh layu akut. Untuk gejalanya, diawali dengan demam, nyeri. Di Aceh, dia demam dulu tanggal 6 kemudian tanggal 9, nyeri sendi dan kemudian tidak bisa jalan. Alurnya itu khas sekali. Walau perlu pemeriksaan lebih lanjut tapi kurang lebih gejala seperti itu," kata dia.

Lumpuh layu akut sendiri ditandai dengan kondisi anak yang mendadak lemas tanpa ada riwayat cedera atau trauma pada kaki. Kemudian, kondisi lemas itu membuat anak akhirnya sulit bergerak dan berjalan, bahkan jika tak ditangani dapat membuat kaki mengecil dan lumpuh permanen. Saat anak mengalami lumpuh layu akut, pemeriksaan lebih lanjut dilakukan dengan memeriksa sampel tinja di laboratorium.

"Polio bisa dicegah dengan imunisasi lengkap. (Kalau terlambat ditangani) bisa lumpuh permanen, kaki mengecil karena nggak bisa pakai berjalan dan bisa kematian karena kena (saraf) saluran napas," tambahnya.

Ilustrasi anak sakit.

Photo :
  • Pexels/Cottonbro

Maka, dokter Kamal menegaskan pentingnya melakukan pencegahan sejak dini dalam menghindari gejala yang tak diinginkan itu. Pencegahan utama, tentu dari vaksin polio diiringi imunisasi lengkap. Selanjutnya, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang terdengar sederhana namun mampu mencegah beragam penyakit, termasuk polio.

"Kita berhasil eradikasi (berantas polio) tipe 2 dan 3. Bisa nih kita atasi. Karena yang bermasalah kalau anak belum divaksin, akhirnya virus masuk dan berkembang di saluran pencernaan dan serang saraf. Kalau sudah vaksin ada perlindungan, tentu akan menjadi pelindung untuk anak tersebut tidak alami gejala apalagi kelumpuhan," tandasnya.

Adapun pada awal November 2022 ditemukan satu kasus polio di Kabupaten Pidie, Aceh berdasarkan penelusuran RT-PCR. Sehingga kemudian pemerintah Kabupaten Pidie menerapkan Kejadian Luar Biasa Polio tingkat Kabupaten Pidie.

Pasien berusia 7 tahun 2 bulan dengan gejala kelumpuhan pada kaki kiri. Anak mulai merasa demam di tanggal 6 Oktober kemudian tanggal 18 Oktober masuk RSUD TCD sigil. Pada tanggal 21 sampai 22 Oktober dokter anak mencurigai polio dan mengambil dua spesimen dan dikirim ke provinsi. Kemudian tanggal 7 November hasil RT-PCR keluar hasil konfirmasi polio tipe 2.